Memuliakan dan Meneladani Kiai Muwafiq

KESEMPATAN LANGKA – Rabu (2/11/2022), Kiai Ahmad Muwafiq, sering disebut pula dengan Gus Muwafiq, pinarak di Ndalem Ayem Muncar, Susukan, Kabupaten Semarang. NDALEM AYEM

Pada kesempatan yang langka, tepatnya Rabu, 2 November 2022, Kiai Ahmad Muwafiq, sering disebut pula dengan Gus Muwafiq, menyempatkan diri untuk pinarak (mampir) di Ndalem Ayem Muncar, Susukan, Kabupaten Semarang. Beliau berkenan memberikan petuah dalam dialog yang mencerahkan.

Kiai Muwafiq seorang ulama populer di Indonesia. Kedalaman ilmu agama dan sejarah yang beliau miliki masih terus digandrungi oleh umat dalam setiap tablig yang menghadirkan beliau. Petuah-petuah Kiai Muwafiq sangat menginspirasi umat, sehingga kehadiran beliau merupakan suatu berkah.

Dikenal sebagai ulama muda NU, Kiai Muwafiq tersohor sebagai seorang kiai sekaligus dai yang berdakwah bukan hanya di Indonesia, namun hingga belahan dunia lain, di luar negeri. Ceramah beliau sangat bernas dan mencerahkan umat. Sebab, beliau menggunakan diksi ‘hikayat’ dan ‘sejarah’ untuk menakwilkan tanda-tanda kehidupan masyarakat dalam peradaban dunia.

Kiai Muwafiq dikenal menguasai sejarah Nusantara dan peradaban dunia. Konten ceramahnya selalu dapat menggugah kesadaran umat, karena kemampuannya menafsirkan makna filosofi atas hal-hal sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari.

Beliau sangat piawai dalam berceramah, sebab didasari pada kedalaman ilmu dan kesalehan diri yang sudah tidak dapat diragukan lagi. Kiai Muwafiq ditempa proses keilmuan yang sangat memadai, baik di dunia pesantren maupun jenjang pendidikan formal. Bahkan konon dikisahkan, beliau juga aktivis saat berstatus mahasiswa yang tergabung ke dalam organisasi kemahasiswaan besar di Indonesia. Beliau tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri Organisasi Kepemudaan (OKP) yang masih eksis hingga sekarang.

Proses keilmuan Kiai Muwafiq diperkuat dengan referensi bacaan buku yang memadai. Beberapa santrinya menyampaikan, koleksi buku ilmiah beliau mencapai ribuan eksemplar, berbagai bahasa dan dari berbagai spektrum keilmuan, mulai sejarah, sastra, novel, hingga jurnal ilmiah. Selain itu, terdapat koleksi berbagai kitab klasik yang masih tertata rapi, hingga kini.

Kedalaman ilmu Kiai Muwafiq tampaknya bukan hanya bersumber dari ruang pesantren salaf atau bangku pendidikan formal. Dikisahkan, beliau mendalami ilmu dalam lansekap ruang spiritualitas yang disiplin dan istiqomah sejak muda.

Proses riyadhah yang dijalani konon berangkat dari tuntunan para Kiai Khos sebagai guru beliau yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara, sehingga sanad mata rantai keilmuan beliau sangat jelas dan sistematis.

Kiai Muwafiq salah satu sosok cendekiawan, budayawan, dai sekaligus seorang ulama muda yang mampu secara presisi dan tepat mempresentasikan identitas Jamiyah Nahdlatul Ulama. Sebab, beliau memiliki sudut pemikiran komprehensif seputar sejarah dan peradaban dunia, yang dikorelasikan dengan pola hubungan relasi antara agama dan negara.

Dalam setiap ceramahnya, Kiai Muwafiq secara brilian menyajikan pintu jalan tengah antara kecenderungan aqli (rasionalis) dan naqli (skripturalis). Beliau mampu mengidentifikasi Al-Quran dan Sunnah, selanjutnya menganalisisnya dengan kemampuan rasionalitas atas realitas empiris.

Kiai Muwafiq senantiasa mengajak umat untuk mencapai kesalehan diri maupun kesalehan sosial. Beliau mengajak umat untuk mencintai negara dan bangsa agar dapat senantiasa aktif mengambil bagian dalam pembangunan bangsa, menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT. Umat yang notabene warga NKRI harus menjadi warga negara yang senantiasa menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945.

Ulama Keramat

Selain dai, Kiai Muwafiq dikenal sebagai seorang ulama yang keramat. Sebab, karomahnya sering disaksikan oleh para santrinya. Meski masih tergolong berusia muda, kekeramatan beliau sebagai seorang ulama sering disaksikan langsung oleh beberapa santri. Kiai yang berpenampilan gondrong ini, seperti banyak disampaikan oleh para santrinya, memiliki banyak karomah.

Saat masih muda, sekira 15-16 tahun, beliau mendapatkan amanah dari gurunya untuk ziarah ke Makam Wali Sanga di Tanah Jawa yang harus ditempuh dengan cara berjalan kaki. Dikisahkan, setelah menjalaninya beberapa hari, beliau merasa kecapekan hingga berniat untuk naik bus. Namun, ketika hendak naik bus, tiba-tiba beliau merasa ditempeleng oleh sang guru. Karena hal tersebut, beliau lantas membatalkan niat untuk naik bus, dan melanjutkan perjalanan ziarahnya berjalan kaki, dengan waktu tempuh selama tiga bulan.

Sebelum melanjutkan perjalanan, beliau pulang terlebih dahulu ke pondok pesantren. Sebab, beliau rencananya melanjutkan ziarah dengan berjalan kaki, dimulai dari pondok. Dikisahkan, tiga hari terhitung sejak keberangkatan, ternyata beliau telah kembali ke pondok dan diterima secara baik oleh Sang Kiai, karena selama tiga hari tersebut, Kiai Muwafiq benar-benar menjalankan amanah ziarah Wali Sanga di Tanah Jawa.

Para santri lain merasa heran, karena amanah ziarah Wali Songo dengan berjalan kaki yang nalarnya harus berlangsung paling singkat selama tiga bulan, ternyata dapat ditempuh Kiai Muwafiq muda hanya dalam waktu tiga hari; sama-sama berjalan kaki, tidak menggunakan moda kendaraan apa pun.

Demikian satu di antara kekeramatan atau karomah yang dimiliki oleh Kiai Muwafiq yang bisa melipat waktu tiga bulan menjadi hitungan tiga hari. Keistimewaan ini sering disebut dengan ‘ilmu melipat bumi’. Sebuah karomah yang diberikan oleh Allah SWT untuk hambanya dengan kualifikasi tertentu. Artinya, tidak semua orang bisa memilikinya dan hanya orang tertentu yang diberikan-Nya.

Ilmu tersebut sering dikisahkan, dimiliki oleh Nabi Khidir AS hingga Gus Dur, bahkan sejumlah ulama terdahulu juga memiliki ilmu melipat bumi yang merupakan karomah pemberian Allah SWT untuk hamba-Nya. Sejumlah ulama menunaikan sholat di Mekkah, namun beberapa menit kemudian ada yang menyaksikan bila Sang Kiai sedang melakukan aktivitas di rumah beliau, di Indonesia tercinta.

Sebenarnya, para ulama tidak memamerkan keistimewaan yang mereka miliki. Hal itu diketahui atau disadari orang lain secara tidak sengaja (kamangnungsan). Sebab, para ulama justru sering menampilkan keteladanan akhlak, seperti kedermawanan, keluasan ilmu, dan lainnya, seperti telah disampaikan Kiai Muwafiq pada saat berdiskusi dengan beberapa santrinya.

“Cukuplah ilmu menjadi sebuah keutamaan saat orang yang tak memiliki mengaku-ngaku memilikinya dan merasa senang jika dipanggil dengan gelar ilmuwan,” demikian dawuh beliau.

Adab Belajar

Memuliakan tamu, apalagi seorang ulama, merupakan salah satu adab. Kiai Muwafiq sebagai seorang guru bagi umat haruslah dimuliakan. Dalam dunia pondok pesantren, adab santri kepada kiai dan guru menjadi pembelajaran utama yang harus dipelajari, sebelum berlanjut belajar disiplin ilmu agama yang lain. Kitab Ta’limul Muta’allim menjadi kitab rujukan utama bagi santri untuk belajar ilmu adab dan mekanisme menuntut ilmu yang baik, dan insya Allah mendatangkan kebermanfaatan.

Pada era society 5.0 ini, ilmu pengetahuan menjadi modal terpenting bagi manusia untuk hidup mulia dan sejahtera di dunia. Bagi seorang santri, dasar belajar ilmu pengetahuan maka harus bertolak dari ilmu adab.

Pengimplementasian sikap takzim terhadap guru di antaranya, seperti memuliakan guru. Dengan memiliki sikap takzim terhadap guru ketika menuntut ilmu, diharapkan ilmu yang diperoleh bisa memberikan kefaedahan, kemanfaatan, dan keberkahan, baik bagi diri murid sendiri maupun orang lain, baik di dunia dan di akhirat kelak.

Matur sembah nuwun, Guru, atas segala pengetahuan dan bimbingannya. Semoga dapat memberikan manfaat barakah fiddunya wal akhirah bagi kami semua. Lahul Fatihah. Semoga bermanfaat.

Add Comment