Melihat Lebih Dekat Desa Muncar

Suasana Desa Wisata Muncar Susukan Kabupaten Semarang. INSTAGRAM/@ngidam_muncar

Desa Muncar merupakan wilayah desa yang ada di Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Desa seluas 240,670 Ha ini memiliki cerita sejarah yang menarik untuk dikembangkan dan dikenalkan kepada khalayak luas.

Nama Desa Muncar sendiri diberikan sebagai pertanda dari adanya suatu peristiwa atau kejadian di masa lalu.

Merupakan hal yang lazim terjadi di Indonesia dan daerah Jawa pada khususnya nama-nama daerah seringkali diambil dari cerita sejarah yang berkembang tentang sebuah peristiwa yang pernah terjadi di tempat itu.

Sejarah Desa Muncar memiliki kaitan dengan gerak perjuangan yang dilakukan Pangeran Diponegoro maupun pasukan yang dipimpinnya.

Di medio tahun 1820-an di masa perjuangan kemerdekaan melawan penjajahan Belanda, terjadi perlawanan yang dilakukan Kerajaan Mataram Islam (Ngayogyakarto Hadiningrat). Perlawanan melawan penjajah Belanda itu diantaranya yang paling memberi dampak besar bagi bangsa kolonial tersebut adalah Perang Diponegoro.

Perang Diponegoro atau yang kemudian dikenal sebagai Perang Jawa terjadi pada 1825-1830 yang melibatkan pasukan yang dipimpin Pangeran Diponegoro melawan pasukan Belanda. Dikisahkan bahwa Perang Diponegoro menimbulkan masalah serius bagi bangsa penjajah tersebut di tanah Nusantara pada umumnya dan Jawa pada khususnya.

Perlawanan Pangeran Diponegoro telah mengusik dan membuat kerugian besar bagi kas keuangan bangsa Belanda tersebut. Hingga sampai membuat pasukan yang ada di Sumatera dan penjajahan disana ditarik ke Jawa untuk menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro di Perang Jawa.

Pangeran Diponegoro yang merupakan seorang pangeran dari Keraton Mataram Islam memiliki banyak pengikut dari berbagai daerah yang bersimpati atas perjuangannya. Salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Nyi Ageng Serang yang merupakan keturunan Sunan Kalijaga pernah singgah dan melewati daerah yang kini menjadi Desa Muncar.

Menurut penuturan dari para sesepuh yang diceritakan secara turun temurun dari orang-orang tua terdahulu, diyakini bahwa wilayah yang kini menjadi Desa Muncar turut menjadi saksi sejarah dalam rangkaian perjuangan Perang Diponegoro.

Setelah Perang Diponegoro pada 1830 berakhir karena tipu muslihat yang dilakukan Belanda, banyak pengikut Pangeran Diponegoro yang kemudian kembali pulang ke daerahnya masing-masing. Termasuk Nyi Ageng Serang yang berasal dari daerah perbatasan antara Sragen dan Grobogan yang kini menjadi kampung Serang.

Perjalanan yang ditempuh Nyi Ageng Serang beserta rombongan bukanlah jarak yang dekat dan tentu menguras tenaga serta sangat melelahkan. Di perjalanan pulang itulah salah satu anggota dari rombongan ada yang terpisah ketika beristirahat dan bermalam di suatu tempat.

Ketika pagi hari rombongan melanjutkan perjalanan ternyata ada salah seorang yang tertinggal atau terpencar dari rombongan utama. Orang yang terpisah ini kemudian dalam bahasa Jawa disebut wong sing mencar (orang yang terpisah). Maka muncul sebutan tersebut yang menandakan bahwa pernah ada wong sing mencar atau orang yang terpisah dalam perjalanan di tempat tersebut.

Orang yang terpisah dari rombongan itu akhirnya memilih menetap dan menikah dengan seorang gadis daerah sekitar itu. Pasangan suami istri itu kemudian dikenal sebagai Ki Koncer dan Nyi Koncer yang diyakini sebagai cikal bakal dari berdirinya daerah yang dikenal dengan Desa Muncar kini.

Desa Wisata Muncar

Penduduk Desa Muncar sebagian besar bekerja di sektor pertanian serta yang lainnya menjadi wiraswasta, jasa dan lain-lain. Secara topografi wilayah, Desa Muncar berada di ketinggian dari permukaan laut sekitar 40 mdpl. Suhu rata-rata di Desa Muncar yaitu 27º C, sedangkan suhu maksimumnya dapat mencapai 37º C.

Di Desa Muncar terdapat satu sungai yang merupakan sungai bersejarah yaitu Sungai Serang yang merupakan jalur perjalanan ketika rombongan Nyi Ageng Serang melewati daerah Desa Muncar. Sungai Serang saat ini berada di antara dua dusun yaitu Dusun Pareyan dan Dusun Ledok. Sungai tersebut melewati dan membelah kedua dusun tersebut.

Batas wilayah Desa Muncar berbatasan dengan Desa Bonomerto Kecamatan Suruh di sebelah Utara, Desa Tegalsari Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali di sebelah Timur, Desa Gentan Kecamatan Susukan di sebelah Selatan, serta Desa Ngasinan Kecamatan Susukan di sebelah Barat.

Destinasi wisata yang dapat dikunjungi ketika berkunjung ke Desa Muncar diantaranya seperti Obyek Wisata Ngidam Muncar. Objek wisata ini menawarkan pesona alam dan edukasi pertanian. Sebagian besar penduduknya yang memang bekerja sebagai petani serta lahan pertanian yang cukup luas menjadi pendukung dari wisata alam yang ditawarkan Desa Muncar.

Objek wisata yang dikelola oleh Pemerintah Desa Muncar ini tepatnya berada di Dusun Nglarangan. Keberadaan Sungai Serang juga dapat menjadi pilihan lain bagi para wisatawan untuk bermain di air yang lokasi pintu airnya berada di Objek Wisata Ngidam Muncar dan cukup indah untuk digunakan sebagai latar pemandangan berfoto.

Sedangkan bagi wisatawan yang senang dengan kegiatan spiritual bermuatan sejarah dapat pula mengunjungi Makam Ki Koncer dan Nyi Koncer di Dusun Ledok. Muatan sejarah yang dibalut dengan perkembangan zaman membuat banyak desa mengembangkan segala potensi desa yang dimiliki termasuk wisata religi ke makam para leluhur.

Potensi Desa Muncar yang memiliki alam yang indah serta sejarah yang ditulis dengan rapi dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat sejarah dan wisatawan untuk datang berkunjung.

Bahan Bacaan: http://muncar.susukan.semarangkab.go.id/