Bukit Sadang,Tawarkan Keindahan Wisata Alam Desa Kemetul

Arak-arakan dalam tradisi Jolenan./ KEMETUL.SUSUKAN.SEMARANGKAB.GO.ID

Susukan, Kabupaten Semarang- Berdirinya sebuah daerah pastilah ada sejarah yang menyertainya yang perlu untuk diketahui ceritanya. Begitu juga dengan salah satu desa yang ada di Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang yang satu ini. Desa Kemetul, dari namanya seakan ada makna kata yang memiliki kaitan kesejarahan dari aktivitas orang-orang di masa lalu.

Benar saja, ternyata Desa Kemetul memiliki kisah yang diyakini sebagai cerita dari berdirinya desa tersebut. Cerita tentang asal-usul nama Desa Kemetul bermula dari pelarian seorang prajurit Keraton Surakarta yang kemudian bersembunyi di sebuah tempat. Di masa persembunyiannya prajurit itu bertapa di sebuah batu besar di bawah pohon kanthil yang disebut sebagai “Watu Lawang”.

Ketika proses bertapanya selesai, prajurit tersebut bertemu dengan seorang perempuan yang menarik hatinya. Hingga kemudian prajurit dan perempuan tersebut menjadi sepasang suami istri. Adapun perempuan tersebut diketahui bernama Nyai Ketul yang diyakini sebagai leluhur dari masyarakat desa yang kini dikenal dengan nama Desa Kemetul.

Di Desa Kemetul tersimpan banyak potensi yang dapat menjadi daya tarik bagi berkunjungnya wisatawan ke desa tersebut. Selain tawaran keindahan alam yang mudah untuk dilihat, juga kegiatan kesenian budaya sebagai bentuk pelestarian budaya serta tidak ketinggalan industri jajanannya.

Tepatnya di ujung barat Desa Kemetul terdapat sebuah bukit yang menawarkan keindahan alam yang terbentang luas dalam rimbun hijau pepohonan yaitu Bukit Sadang. Di antara pepohonan itu ada satu pohon bernama sekar kanthil.

Menurut mitos yang dipercayai oleh masyarakat Desa Kemetul, pohon sekar kanthil memiliki sebuah keistimewaan. Konon bunga kanthil yang tumbuh subur dalam satu pohon memiliki dua warna bunga yaitu putih dan orange. Bunga yang tumbuh bahkan sampai menutupi pohon, namun anehnya ketika bunga tersebut gugur justru tidak jatuh di sekitar area pohon. Di bawah area pohon tetap bersih walaupun bunga pohon kanthil sangat banyak dan mulai berguguran.

Kebanggaan terhadap bunga kanthil yang memiliki cerita legenda bagi masyarakat Desa Kemetul kini digunakan untuk menjadi ikon bagi desa tersebut. Bahkan nama organisasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang mengelola dan mengembangkan wisata Desa Kemetul menggunakan nama Sekar Kanthil.

Pemilihan nama tersebut tentu tidak lepas dari makna filosofis yang terkandung di dalamnya, warna putih bunga kanthil melambangkan kesucian tekad warga desa untuk membangun Desa Kemetul menjadi desa yang makmur dan sejahtera dengan salah satunya melalui kegiatan pariwisata. Sedangkan bunga kanthil yang menebar keharuman diharapkan dapat memberi pengaruh positif bagi siapa saja.

Tradisi Budaya

Letak geografis Desa Kemetul berada di sebelah paling utara Kecamatan Susukan yang juga berbatasan dengan dua kecamatan yaitu Kecamatan Suruh dan Kecamatan Tengaran. Wilayah Desa Kemetul termasuk salah satu desa yang terletak pada garis dataran tinggi pegunungan di wilayah Kecamatan Susukan. Masyarakat Desa Kemetul sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani dan ada juga yang menjadi pedagang.

Kondisi geografis Desa Kemetul berada pada ketinggian 622 mdpl dengan keadaan suhu rata-rata 19-32 °C. Kontur alam yang berbukit membuat Desa Kemetul kaya akan potensi wisata alam seperti pemandangan dari puncak Bukit Sadang yang membuat para pengunjung dapat menikmati sunrise di pagi hari.

Daya tarik lainnya yang juga terkenal adalah tradisi budaya yang masih dilestarikan di Desa Kemetul seperti Dawuhan dan Jolenan. Dawuhan adalah tradisi adat yang dilakukan masyarakat Desa Kemetul yang biasanya dimaksudkan untuk meminta hujan ketika musim kemarau. Ketika Dawuhan dilakukan dan sudah diberikan hujan harapannya juga dapat membawa berkah untuk seluruh masyarakat Desa Kemetul. Kegiatan yang dilakukan dalam tradisi Dawuhan adalah acara makan bersama yang biasa disebut “kondangan” oleh masyarakat sekitar. Acara makan bersama berupa tumpeng dengan lauk ala pedesaan biasanya disajikan di atas daun pisang.

Sedangkan Jolenan atau Jolen (ojo lalen — jangan lupa) merupakan tradisi arak-arakan hasil bumi yang diikuti oleh semua warga masyarakat. Tradisi ini diadakan setiap tahunnya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki panen yang dilimpahkan. Dalam tradisi Jolenan tersimpan nilai akan pentingnya rasa syukur serta membuktikan rasa syukurnya dengan menggelar kebahagian bersama melalui arak-arakan hasil bumi yang telah ditanam dan dipanen.

Desa Kemetul juga memiliki banyak industri rumahan seperti produksi kerupuk kentir, marning, dan bakpia. Pengunjung dapat melihat dan terlibat langsung dalam proses produksi pengolahan yang dilakukan di industri rumahan Desa Kemetul.