Inovasi Warung Tongkrongan Bantu Kembangkan Perekonomian

Peresmian Watong (warung tongkrongan) yang bertempat di Majesty Convention Hall (foto: Pemkot Semarang)

Semarang – Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi tiang utama perkembangan ekonomi masyarakat. Pemerintah Kota Semarang resmikan watong (warung tongkrongan) dalam rangka menyongsong kekuatan masyarakat. Watong merupakan salah satu UMKM terbaru dan modern di Kota Semarang.

Bertempat di Majesty Convention Hall pada Senin (23/9/2019), peresmian dihadiri oleh Asisten Administrasi Pemerintahan Sekda Kota Semarang Trijoto Sardjoko mewakili Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang Bambang Suranggono. Trijoto Sardjoko berharap model UMKM seperti ini dapat diperbanyak dan dikembangkan oleh masyarakat Kota Semarang. Inovasi UMKM seperti watong dapat membantu pembangunan Kota Semarang yang lebih maju.

“Kegiatan ini tidak hanya untuk berdagang atau untuk berjualan tetapi juga konteksnya dapat menyediakan tempat bagi para anak muda di Kota Semarang untuk mulai berbisnis,” ucap Trijoto Sardjoko.

UMKM Bantu Tingkatkan Kekuatan Ekonomi

Secara garis besar kegiatan ekonomi UMKM memberikan kontribusi sekitar 60% terhadap total Pendapatan Domestik Bruto Indonesia. Usaha Mikro menyumbang sekitar Rp5000 trilyun per tahun, Usaha Kecil Rp1300 trilyun, Usaha Menengah sekitar Rp1800 trilyun; dan Usaha Besar sekitar Rp5400 trilyun.

Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki posisi sangat strategis dalam perekonomian nasional. Bahkan, UMKM terbukti mampu bertahan dari goncangan krisis ekonomi atau dikenal krisis moneter (krismon) pada tahun 1997-1998 silam.

“Meskipun dalam skala jumlah pekerja, aset, dan omset tergolong kecil, namun pada tahun 1998 pelaku UMKM tidak terkena krismon lantaran tidak berbau dolar. Padahal saat itu, banyak usaha skala besar yang bangkrut, bahkan gulung tikar,” ujar Sri Puryono KS, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Akses Permodalan bagi UMKM di Syariah Hotel Solo, Kamis (11/4/2019).

Dijelaskan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pelaku UMKM di Jateng sebanyak 4,9 juta unit UMKM, sebanyak 140 ribu UMKM telah dibina oleh Dinas Koperasi dan UMKM Jateng. Adapun jenis usahanya meliputi produksi non-pertanian, pertanian, perdagangan dan jasa.

Berkaca dari hal itu, kata Sri Puryono, peranan UMKM cukup penting dalam penyediaan lapangan kerja. Sehingga memiliki dampak dalam upaya penurunan pengangguran dan kemiskinan, serta pertumbuhan ekonomi daerah. Pihaknya mendorong daya saing pelaku UMKM dengan terus melakukan inovasi dan kemampuan teknologi.

Add Comment