Wakil Walikota Semarang: “Perempuan Milenial Harus Maju”

Sesi Foto bersama Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, usai nonton bareng film 9 Putri Sejati. (Foto: Pemkot Semarang)

Semarang- Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, atau yang akrab dipanggil Mbak Ita menegaskan bahwa perempuan milenial harus maju. Hal ini disampaikannya usai acara nonton bareng (Nobar) film “9 Putri Sejati, Selasa (27/08/2019).

“Kita ini semua harus bersatu padu, bersyukur kita semua menjadi saksi dari karya bangsa yang Insyaallah tidak hanya menyajikan tontonan semata tetapi sekaligus menjadi tuntunan bagi penikmat film,” ujarnya.

Ia bercerita bahwa dulu perempuan hanya dapur kasur sekarang perempuan juga bisa maju. Apalagi dengan kecanggihan teknologi, perempuan bisa mengakses informasi tanpa batas ruang dan waktu.

Pihaknya juga menyampaikan apabila ada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perempuan maka akan di dukung dengan penuh.

Hadir pada acara tersebut Ketua PD Muhammadiyah  Kota semarang  Fachrurrozi,  Ketua PD  Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang Jumai,  Ketua LSBO  Ketut Budiman, Kepala SMA Muhammadiyah 1 Semarang, Sukini,  Kepala SMP Muh 3 Semarang, Rojudin,  Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Semarang, Joko Suprayitno, Ketua Komite  Priyono, Ketua LSBO Lembaga Seni Budaya Olahraga, PDM Kota Semarang  Budiman.

Film 9 Putri Sejati

Film ini menceritakan tentang Badilah, Bariah, Umniyah dkk adalah perempuan-perempuan muda di Kauman yang berusaha keluar dari kungkungan jaman. Di awal abad 19 perempuan berkodrat dapur, sumur, dan kasur, selalu di belakang dan tiada ruang untuk mereka.

Perjuangan mereka sungguh berat karena menghadapi penolakan dari masyarakat yang kolot. Mulai dari cibiran ringan sampai dengan penolakan dan boikot. Tetapi kesulitan-kesulitan itu justru menempa mereka menjadi perempuan-perempuan kuat.

Film 9 Putri Sejati adalah film kedua LSBO yang mengangkat sejarah mengenai peranan Muhammadiyah sebagai pelopor dalam memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan hak perempuan di Indonesia.

Sembilan perempuan yang menjadi pelopor itu berjuang dalam wadah organisasi perempuan pertama di Hindia Belanda bernama Sopo Tresno yang kemudian berganti nama menjadi ‘Aisyiyah.

Sukriyanto AR, Ketua LSBO PP Muhammadiyah menyebut kisah perjuangan perempuan terutama dalam organisasi ‘Aisyiyah dalam memperjuangkan hak-haknya sejak 90 tahun yang lalu itu perlu ditampilkan dalam bentuk film.

“Organisasi ‘Aisyiyah sendiri sudah lama terbentuk sebelum kongres perempuan. Film ini berpesan tentang kemerdekaan perempuan dari budaya Jawa konco wingking, yang mengurus sumur, dapur, kasur (teman belakang yang membantu masalah rumah tangga),” ungkap putra AR Fakhruddin ini.