Penataan Pembangunan Melalui Manajemen Konflik

Seminar bertajuk AMBON: Membangun Kota Inklusif dan Toleran bertempat di Ruang Theater Gedung Thomas Aquinas oleh Universitas Katolik Soegijapranata. (Foto: Pemkot Semarang)

Semarang- Bagaimana cara memelihara agar percepatan pembangunan dapat terjadi?. Begitulah kira-kira diskusi yang oleh Universitas Katolik Soegijapranata (UNIKA) ini dimulai.

Melalui seminar bertema AMBON: Membangun Kota Inklusif dan Toleran, UNIKA menghadirkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Wali Kota Ambon Richard Louthenapessy. Narasumber yang hadir menjadi pembicara antara lain Prof. David Bamford dari Flinders University, Drs. Andreas Pandiangan, Ir. Yulita Titik Sunarimahingsih.

Sminar kali ini berlangsung di Ruang Theater Gedung Thomas Aquinas  Unika Soegijapranata, Senin (26/08/2019).

“Tidak ada pemimpin daerah yang menginginkan daerahnya memiliki konflik”, tegas Hendi sapaan akrab Wali Kota Semarang.

Kecepatan Pemerintah dalam merespon berbagai persoalan namun pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dalam hal ini, Pemerintah tetap membutuhkan masyarakat untuk merespon sehingga dapat berkesinambungan.

“Tugas pemimpin untuk bisa merangkul, semua kelompok dalam golongan termasuk dalam mengupayakan dan menjelaskan ketika terjadi atau ada sedikit persoalan yang berbau SARA untuk bisa dikomunikasikan dan diatasi secara tepat dan cepat” Ujar Hendi.

Hendi berpesan jangan pernah mudah termakan berita hoax yang bisa memecah tali persaudaraan NKRI Indonesia.

Komunikasi dan Stakeholder dalam upaya kepekaan dan kecepatannya dalam merespon harus selalu ada. 74 tahun Indonesia merdeka karena adanya perbedaan suku, agama dan RAS.

Semua warga Bangsa Indonesia tidak ada perbedaan antara suku, agama, budaya dan RAS jadi harapan dalam seminar ini mari bersepakat NKRI harga mati, kita harus membuat Indonesia semakin maju dan Semarang menjadi hebat.

Manajemen Konflik

Dalam fenomena interaksi dan interelasi sosial antar individu maupun antar kelompok, terjadinya konflik sebenarnya merupakan hal yang wajar. Pada awalnya konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala alamiah yang dapat berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara  mengelolanya.

Dalam tulisannya, Sumaryanto salah satu mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta berpendapat bahwa persoalan konflik tidak perlu dihilangkan tetapi perlu dikembangkankarena merupakan sebagai bagian dari kodrat manusia yang menjadikan seseorang lebih dinamis dalam menjalani kehidupan.

Adanya konflik terjadi akibat komunikasi yang tidak lancar, tidak adanya kepercayaan serta tidak adanya sifat keterbukaan dari pihak-pihak yang saling berhubungan. Dalam realitas kehidupan keragaman telah meluas dalam wujud perbedaan status, kondisi ekonomi, realitas sosial. Tanpa dilandasi sikap arif dalam memandang perbedaan akan menuai konsekuensi panjang berupa konflik dan bahkan kekerasan di tengah-tengah kita.

Konflik sangat erat kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk perasaan diabaikan, disepelekan,  tidak dihargai, dan ditinggalkan, karena kelebihan beban kerja atau kondisi yang tidak memungkinkan. Perasaan-perasaan tersebut sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya  kemarahan.

Keadaan tersebut akan mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan kegiatannya secara langsung, dan dapat menurunkan produktivitas kerja secara tidak langsung dengan melakukan banyak kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.

Add Comment