Nongkosawit Dirasa Perlu Genjot Promosi sebagai Desa Wisata

Sebagai desa wisata berbasis budaya dan edukasi Nongkosawit diharapkan menjadi wilayah konservasi burung-burung liar. (Foto: Desa Wisata Nongkosawit)

Gunungpati – Kelurahan Nongkosawit menetapkan wilayahnya sebagai kampung ramah burung. Warga sepakat untuk tidak berburu burung liar yang berhabitat di wilayah tersebut. Dengan konsep wilayah ramah burung itu akan semakin menambah potensi Nongkosawit sebagai desa wisata.

Ketua Desa Wisata Nongkosawit Suwarsono mengatakan, sebagai desa wisata berbasis budaya dan edukasi, pihaknya ingin Nongkosawit menjadi wilayah konservasi burung-burung liar. Di RW 1, terdapat penangkaran burung langka yang digunakan sebagai edukasi untuk pengunjung. Ke depannya ia ingin melepaskan burung-burung yang ditangkarkan itu.

”Ada beragam jenis burung yang ditangkarkan. Mulai dari jalak, kakatua, kacer, beo, hingga cendrawasih. Penangkaran ini sebagai edukasi untuk pengunjung mengenal jenis-jenis burung. Harapannya burung itu bebas terbang liar di Desa Wisata Nongkosawit,” paparnya.

Lurah Nongkosawit Al Choiri menambahkan, dengan konsep wilayah ramah burung itu akan semakin menambah potensi wilayah. Nongkosawit sudah dijadikan desa wisata berbasis edukasi dan budaya.

”Jadi kita ingin mensosialisasikan kepada masyarakat apa pengertian desa wisata itu,” katanya.

Desa wisata Nongkosawit ini, tambah Choiri, misalnya sebagai kampung edukasi dan budaya. Desanya juga memiliki air terjun atau curug sebagai potensi wisata lain. Ada juga UMKM-nya dengan kerajinan khas seperti gelang dari buah genitri.

Optimalisasi Promosi Pariwisata

Desa Wisata Nongkosawit memiliki sejumlah potensi alam, budaya, dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan. Potensi yang ada tersebut misalnya adalah wisata ternak, wisata area pesawahan, hingga wisata kuliner khas desa tersebut. Dari sejumlah potensi yang ada di Desa Wisata Nongkosawit, Deanira Chikita Edelweis dan Agung Sugiri (2018) dalam penelitiannya melihat sejauh apa tingkat keberhasilan program desa wisata tersebut dalam rangka membuat Desa Wisata Nongkosawit menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Kota Semarang.

Dari penelitian yang berjudul Evaluasi Tingkat Keberhasilan Program Desa Wisata Nongkosawit Kecamatan Gunungpasti di Kota Semarang itu menyebutkan bahwa Desa Wisata Nongkosawit telah mampu mendukung program pemerintah untuk menyediakan obyek wisata alternatif di Kota Semarang. Hal ini dibuktikan dengan tercapainya penggalian potensi desa untuk membangun kesadaran masyarakat lokal, di mana 83,2% sudah memiliki bekal pengetahuan tentang konsep desa wisata dan kesadaran untuk mengelolanya. Adanya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di desa ini berguna untuk menggali potensi-potensi yang ada dan mengelolanya agar menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Selain itu, sebanyak 87,3% responden wisatawan mengatakan berminat untuk berkunjung kembali ke Desa Wisata Nongkosawit serta bersedia untuk mengajak kerabat dan saudara mereka. Dari sebagian besar responden masyarakat lokal pun merasa bahwa adanya program desa wisata tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.

Namun di samping itu semua, Edelweis dan Sugiri menemukan ada beberapa aspek yang perlu dibenahi, yakni melakukan promosi yang lebih giat agar masyarakat luas lebih mengetahui keberadaan desa wisata tersebut. Selain itu, sebagian besar responden wisatawn juga merasa bahwa akomodasi wisata di Desa Wisata Nongkosawit masih kurang memuaskan. Wisatawan merasa perlu adanya pembenahan untuk akomodasi wisata agar lebih menarik minat mereka untuk menginap di wilayah tersebut.

Sementara itu, pengawat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman Chusmeru mengatakan, promosi pariwisata pada saat ini memerlukan terobosan. Misalnya dengan melakukan pembaruan promosi wisata lewat internet atau media sosial, yang dikenal sebagai promosi digital. Menurutnya, pada era digital saat ini tidak cukup melakukan promosi pariwisata hanya melalui media konvensional, misalnya seperti baliho, billboard, brosur, leaflet, iklan di media cetak, radio, juga televisi.

“Media-media tersebut dinilai berbiaya tinggi, tidak interaktif, kurang dapat diperbaharui setiap saat, dan sulit diprediksi efektivitasnya. Selain itu, tidak dapat diketahui secara langsung respons, minat, dan motif kunjungan wisatawan ke suatu tempat wisata,” paparnya.

Padahal, lanjut Chusmeru, optimalisasi promosi sangat penting agar semua potensi yang dimiliki suatu tempat tujuan wisata dapat diketahui masyarakat luas dan dapat menggenjot pembangunan sektor wisata di suatu daerah. Selain itu, kata dia, upaya promosi pariwisata juga tidak cukup hanya dilakukan melalui pameran atau konferensi.

“Perlu ada promosi yang tepat sasaran, promosi yang kekinian, promosi yang efektif menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung,” imbuhnya.

Atas dasar itulah, perlu ada terobosan untuk promosi potensi pariwisata dengan memanfaatkan berbagai aplikasi media sosial yang ada. Pada saat ini, ada beragam aplikasi media sosial yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat promosi pariwisata. Misalkan saja, website, twitter, instagram, facebook, youtube, line, path, dan berbagai aplikasi media sosial lainnya yang bisa dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga pengelola objek wisata.

Menurut Chusmeru, media digital relatif lebih murah, namun bersifat masif. Media sosial juga sangat menarik dan interaktif. Para pemangku kepentingan bisa kapan saja melakukan pemuktahiran mengenai informasi seputar destinasi wisata. Terlebih lagi, pada saat ini wisatawan cenderung mencari informasi lewat internet atau media sosial karena lebih mudah, murah, cepat, dan kredibel. Hal itu merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya di bidang pariwisata.

“Sudah saatnya pemerintah daerah menangkap kecenderungan perubahan orientasi wisatawan dalam mencari informasi wisata ini,” katanya.

Add Comment