Mengembalikan Fungsi Rawa Pening Sebagai Bendungan Alam

Mentri PUPR meninjau kondisi pembersihan Danau Rawa Pening dari tanaman enceng gondok di Dermaga Dusun Sumurup Asinan, Bawen, Kamis (14/9) (Sumber: Jatengprov)

Bawen, SEMARANGDAILY.COM ** Guna merestorasi Rawa Pening agar kembali berfungsi sebagai bendungan alam banyak usaha dilakukan oleh pemerintah. Diantaranya pengaturan usaha perikanan nelayan setempat yang menggunakan keramba, pengusahaan sawah di lahan surut rawa maupun pelanggaran jarak sempadan waduk untuk permukiman dan usaha industri kecil.

Namun, hal yang paling utama menurut Menteri PUPR, Basuki Hadimulyono adalah pembersihan enceng gondok. Tetapi itu tidaklah mudah mengingat ada sebagian petani yang memanfaatkan tumbuhan air itu untuk budidaya ikan air tawar.

“Kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Semarang untuk mengatasi persoalan sosial yang bisa muncul akibat penanganan Rawa Pening. Sehingga kegiatan sosial ekonomi warga sekitar rawa dapat tetap berjalan baik. Termasuk usaha keramba ikan oleh nelayan setempat akan diatur semaksimal mungkin,” papar Basuki usai meninjau pekerjaan pengangkatan enceng gondok Rawa Pening di Dermaga Dusun Sumurup Asinan, Bawen, Kamis (14/9) siang seperti dikutip situs Pemkab Semarang.

Sedangkan untuk usaha cocok tanam padi di lahan surut Rawa Pening, Menteri alumnus Colorado State University ini juga mengatakan akan dilakukan pengaturan. Sebab pupuk tanaman yang ditabur dapat langsung larut ke air rawa yang dapat menyuburkan enceng gondok.

Kementerian PUPR saat ini menyediakan dua mesin pemanen (harvester) enceng gondok yang digunakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana.  Mesin pemanen tersebut berfungsi mengangkat gulma air sehingga mencegah sedimentasi rawa.

Agar pengerjaannya lebih maksimal, rencananya kementrian PURP akan menambah jumlah mesin pemanen. “Bulan depan (Oktober-red) akan ada penambahan empat alat harvester untuk mempercepat penanganan enceng gondok. Sehingga kapasitas penanganan akan meningkat tiga kali lipat untuk menyelesaikan hamparan enceng gondok seluas 800 hektar,” kata Basuki.

Kepala BBWS Pemali Juwana Rubhan Ruzziyatno sendiri menyambut baik penambahan harvester oleh kementrian PURP. Menurutnya penambahan tersebut akan mempercepat waktu pembersihan tanaman enceng gondok.

“Ini tentunya akan meningkatkan kapasitas pembersihan menjadi tiga kali lipat lebih cepat. Sehingga target awal pembersihan enceng gondok di lahan seluas 800 hektar selama empat tahun akan dapat dipercepat menjadi tiga tahun saja,” papar kepala BBWS.