Gandeng APMI, F-Go v1.0 Smansabara Diujicobakan Nelayan Tambak Lorok

UJI COBA - Dua siswa SMA Negeri 1 Banjarnegara, Fitria Dwi Ratnasari dan Yustira Fima N., bersama nelayan Tambak Lorok, Semarang Utara. (Foto: Hendra Wiguna)
UJI COBA – Dua siswa SMA Negeri 1 Banjarnegara, Fitria Dwi Ratnasari dan Yustira Fima N., bersama nelayan Tambak Lorok, Semarang Utara. (Foto: Hendra Wiguna)

Semarang Utara, SEMARANG DAILY ** Anda pernah mendengar F-Go v1.0 Smansabara atau biasa disebut dengan F-Go? Ia adalah aplikasi android bagi para nelayan agar dapat mengetahui hari atau bulan bebas penangkapan untuk pengembangan ekosistem ikan hingga layak tangkap serta letak atau posisi ikan.

Aplikasi android yang bertujuan menyukseskan Program FFD/M atau Program Fishing Free Day dan Fishing Free Month tersebut dikreasi dua orang siswa SMA Negeri 1 Banjarnegara, Fitria Dwi Ratnasari dan Yustira Fima N.

Bekerja sama dengan Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI), pada Senin (26/9/2016), F-Go disosialisasikan kepada nelayan Tambak Lorok, Semarang Utara. Sosialisasi bertujuan mendapatkan data-data lapangan, terutama peninjauan, apakah aplikasi dapat diterima oleh nelayan, sebagai pelaku utama sektor penangkapan perikanan.

“Peran serta akademisi dalam mendorong perwujudan Indonesia Poros Maritim Dunia, salah satunya adalah dengan peduli kepada nelayan. Hadirnya karya cipta F-Go v1.0 Smansabara membuktikan semangat kemaritiman pemuda Indonesia telah kembali hadir,” ujar Ketua APMI Jawa Tengah, Hendra Wiguna.

Menurutnya, karena merupakan aplikasi android, dan pada umumnya nelayan belum memilikinya, bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sangatlah penting.

“Malah lebih bagus apabila dari KKP membuat alat yang khusus mengaplikasikan aplikasi Smansabara tersebut,” kata Hendra.

Ketua APMI Jawa Tengah, Hendra Wiguna. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Ketua APMI Jawa Tengah, Hendra Wiguna. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Posisi APMI, sambungnya, membantu pengenalan kepada publik. Alat ini dalam proses penyempurnaan, baik dari segi teknologi maupun implikasi sosial dan ekonominya bagi nelayan.

“APMI menjembatani karya pemuda dalam bidang maritim agar dapat terimplementasikan,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Gufron, mewakili nelayan tradisional, mengapresiasi sosialisasi ini. Terlebih, Tambak Lorok akan dibangun menjadi Kampung Bahari. Peningkatan SDM tentu diperlukan, agar sebanding dengan pembangunan daerah.

“Sosialisasi ini sangat bermanfaat untuk kami nelayan yang tidak paham sama sekali tentang teknologi seperti itu. Harapan kami, aplikasi ini dapat segera terrealisasi dan dapat digunakan nelayan di sini, sehingga para nelayan yang sekarang alih profesi menjadi buruh dapat semangat bernelayan lagi,” ucap Gufron.

Kearifan Lokal

Pada kesempatan itu, Fitria Dwi Ratnasari, memberi penjelasan bahwa Program Fishing Free Day dan Fishing Free Month merupakan hasil penelitiannya bersama tim. Tujuan program tersebut adalah memberikan waktu khusus bagi biota laut agar dapat bereproduksi, tumbuh, dan berkembang dengan optimal, tanpa gangguan kegiatan penangkapan ikan.

“Program FFD/M terinspirasi kearifan lokal masyarakat pesisir yang memiliki hari libur tertentu dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan. Diharapkan nantinya kearifan lokal tersebut dapat dijadikan budaya nasional berupa FFD/M, sehingga hal tersebut tetap akan menyejahterakan nelayan, walaupun mereka tidak pergi melaut,” terangnya.

F-Go, tambahnya, tidak hanya bermanfaat bagi nelayan dan masyarakat pesisir, namun juga rakyat Indonesia. Melaui F-Go, masyarakat dapat mengetahui informasi-informasi terkait program FFD/M, kearifan lokal, serta sumberdaya kelautan dan perikanan, sehingga aplikasi ini sangat ia rekomendasikan untuk diterapkan di Indonesia.

Rekan Fitria, Yustira Fima N., melanjutkan penjelasan, melalui F-Go dapat diakses jadwal FFD/M dan detail program FFD/M, di antaranya daerah implemensi FFD/M dan database FFD/M. Nelayan dapat mengetahui daerah-daerah persebaran ikan dengan adanya Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan, juga Peta Lokasi Penangkapan (Pelikan) untuk Ikan Tuna, Cakalang, Lemuru, dan Pelikan.

Selain itu, dapat diakses data-data oceanografi berbasis satelit lainnya, dengan teknologi INDESO melalui database INDESO pada website INDESO yang terhubung langsung ke aplikasi F-Go.

“Aplikasi F-Go dapat digunakan online maupun offline untuk mempermudah penggunaan, di daerah-daerah yang belum terjangkau internet,” pungkasnya.