Kaelan: Perlu Ada Revitalisasi Pancasila Untuk Melawan Radikalisme

Professor Kaelan (Foto: Universitas Brawijaya)
Professor Kaelan (Foto: Universitas Brawijaya)

Gunungpati SEMARANGDAILY** Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof Kaelan mengatakan Pancasila sebagai ideologi seolah ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini diungkapkannya dalam seminar nasional bertema “Kewaspadaan Nasional: Pancasila dan Radikalisme” yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), di Gedung C7 lantai FIS, Kamis (4/6/15).

“Pasca reformasi, Pancasila ditenggelamkan atas nama civil society dan kebebasan,” tuturnya

Lebih lanjut, Kaelan mengatakan saat ini peran negara sangat minim. Hal tersebut salah satu pertanda negara liberal. Kondisi demikian menimbulkan radikalisme ada di Indonesia.

Ia menambahkan perlu adanya revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk melawan radikalisme.

“Ideologi saat ini, baik yang bersifat normatif maupun praksis sudah mengarah ke liberal. Maka perlu diadakan revitalisasi Pancasila,” jelasnya.

Kewaspadaan Nasional

Selain itu, Brigjen TNI Sudirman menyampaikan bahwa Kewaspadaan Nasional atau Padnas adalah suatu sikap dalam hubungannya dengan nasionalisme yang dibangun dari rasa peduli dan rasa tanggung jawab seorang warga negara terhadap kelangsungan kehidupan nasionalnya, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegaranya dari suatu ancaman, termasuk didalamnya ancaman ideologi dan radikalisme.

“Padnas dapat juga diartikan sebagai manifestasi kepedulian dan rasa tanggung jawab bangsa Indonesia terhadap keselamatan dan keutuhan bangsa/NKRI. Oleh karena itu Padnas harus bertolak dari keyakinan ideoligis dan nasionalisme yang kukuh serta perlu didukung oleh usaha-usaha pemantauan sejak dini dan terus menerus terhadap berbagai implikasi dari situasi serta kondisi yang berkembang baik didalam maupun di luar negeri,” ungkapnya seperti dilansir dalam laman resmi Universitas Semarang.

Seminar ini dihadiri 359 peserta dari berbagai kalangan. Pesertanya meliputi mahasiswa Unnes, mahasiswa UPI, guru SMA, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat umum.