Penelitian Aplikatif Harus Jadi Fokus Stakeholder

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (Foto: Wikipedia)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (Foto: Wikipedia)

Kota Semarang, SEMARANGDAILY**Sebagian besar hasil penelitian belum siap pakai, hal ini disampaikan Bambang Subiyanto Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI dalam acara Rapat Koordinasi Jaringan Penelitian yang diselenggarakan oleh Balitbang Prov Jateng, (31/3/14).

Hal senada disampaikan oleh Prof Daniel D Kameo dari Dewan Riset Daerah Jateng, bahwa hingga hari ini penelitian di Jawa tengah tidak berkembang dan belum terstruktur, pembahasan masih seputar bentuk kelembagaan yang akan dibuat.

“Belum sampai pada taraf aplikatif kemada masyarakat atau industri,” katanya.

 Hasil hasil penelitian agar aplikatif keberadaan Science and Technopark ( inkubator teknologi ) perlu dibangun di beberapa daerah. Dikemukakan pula salah satu hambatan utama dalam optimalisasi  hasil riset adalah rendahnya sinergitas antar peneliti dan lembaga lembaga penelitian. Kejelasan dan sinergitas dari masing masing pemangku kepentingan ini menentukan fokus, arah dan optimalisasi potensi Litbang.

Dalam optimalisasi potensi litbang ada tiga pemangku kepentingan yaitu Peneliti, Pemerintah dan Masyarakat pengguna. Peranan pemerintah sebagai fasilitator dan intermediasi sangat penting dalam memetakan dan mengarahkan kegiatan penelitian dan pengembangan Iptek yang terkait langsung dengan kebutuhan masyarakat pengguna dan pembangunan Jawa Tengah.

Signifikasi Peran Kampus

Dalam melakukan kajian riset, tidak hanya kampus yang memiliki peran signifikan. Semua eleman harus bergerak agar inovasi riset bisa terus dikembangkan. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undip, Prof Ocky Karna Radjasa, Senin, (17/2/15).

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Undip, Prof Ocky Karna Radjasa. (Foto: Sindo)
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Undip, Prof Ocky Karna Radjasa. (Foto: Sindo)

Ia menyampaikan bahwa investasi untuk hasil riset itu adalah tanggungjawab banyak pihak. Didalam mekanisme riset itu ada interaksi ABCG (Academic-Bussines-Community-Goverment), itu adalah kunci. Artinya, forum itu harus sering didorong

“investasi untuk hasil riset itu adalah tanggung jawab banyak pihak”, tegasnya.

Ia menjelaskan, bahwa saat ini banyak teknologi riset tidak sampai ke industri. Hal ini karena tidak ada interaksi.  Ini disebut bahwa difusi teknologi riset  tidak sampai ke user. Oleh karena itu perlu ada suatu mekanisme yang mendorong forum ini dengan baik.

“Banyak teknologi riset yang tidak sampai ke Industri,” ungkapnya.

Ocky menjelaskan jika forum ini sangat penting, untuk mengetahui persoalan yang terjadi. Untuk mengetahui penelitian tersebut sesuai dengan persoalan yang dibutuhkan. Agar tahu peneltian yang diinginkan oleh user.

Ia mengungkapkan bahwa dalam perguruan tinggi ada yang disebut dengan science park. Ini adalah konsep yang mempertemukan peneliti dengan user. Menggabungkan apa yang diinginkan oleh pihak industri atau pemakai dengan teknologi apa yang harus diteliti oleh perguruan tinggi.

Hal ini dapat diimplementasikan dalam beberapa hal misalnya, bagaimana perusahaan dapat meningkatkan penjualan (selling up),  bagaimana mendorog pemasaran ( marketting),  dan beberapa hal lainnya.

“Misalnya, aku (perusahaan–red) punya modal ini, bagaimana bisa selling up,  ini lho bermanfaat untuk marketting”, pungkas Ocky.