Merumuskan Arah Kebijakan Tambaklorok Sebagai Kampung Bahari

Tambaklorok dalam pemandangan (Foto: Gazebo Maritim)
Tambaklorok dalam pemandangan (Foto: Gazebo Maritim)

Semarang Utara, SEMARANGDAILY**Tambak Lorok merupakan salah satu daerah pantai di kota Semarang yang terletak di Sungai Banger, kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang utara. Tambak Lorok adalah kampung nelayan terbesar di kota Semarang, Jawa Tengah. Dengan adanya fenomena bahwa masyarakat yang bermukim di kawasan ini memiliki ketergantungan terhadap sumber daya alam khususnya laut sebagai tempat mencari ikan hal ini telah menyatu dengan kondisi sosial ekonomi dan kehidupan kebudayaan masyarakat serta telah berlangsung secara turun menurun sehingga pemukiman ini lebih dikenal sebagai Pemukiman Nelayan.

Sebagai kampung nelayan terbesar di kota Semarang, Jawa Tengah aktivitas warga di kampung ini tidak jauh berbeda dengan kampung nelayan di daerah lain. Hanya saja, kawasan ini terancam oleh abrasi pantai dan penurunan ketinggian tanah setiap tahunnya.

Inisiasi Kampung Bahari

Sesuai dengan rencana dari pemerintah Indonesia untuk menjadikan Tambak Lorok menjadi salah satu dari “Kampung Bahari” yang ada di negeri ini. Dana kurang lebih sebesar Rp. 70 Milyar telah siap digelontorkan demi pembangunan “Kampung Bahari” di kawasan ini, namun menurut penuturan

Menurut Lutfi, staff Bappeda Kota Semarang, menyampaikan jika pada saat ini belum ada master plan mengenai konsep bahari.

“Hingga saat ini belum ada master plan tentang konsep kampung bahari yang digagas oleh pemerintah di tambak lorok, hal ini dikarenakan tanggal 14 Januari 2014 PT Pelindo III baru menyetujui pelepasan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) kawasan tambak lorok sehingga pemerintah semarang baru memperoleh kepastian hak pengelolaan kawasan tersebut yang nantinya akan resmi menjadi milik warga dan pengembangan serta pengelolaannya bisa dilakukan oleh pemerintah kota semarang, meski pelepasan masih dalam proses di Kantor Pertanahan Kota Semarang,” katanya saat diwawancari oleh team kajian tambak lorok Kogam (komunitas Gazebo Maritim), Senin, (16/04/2015).

Beberapa Persoalan Tambaklorok

Berdasarkan hasil observasi Team Kajian Tambak Lorok Kogam (Komunitas Gazebo Maritim), dampak dari penurunan tanah, abrasi pantai dan rob tersebut memang sangat dirasakan oleh masyarakat tambak lorok pada umumnya, rumah-rumah dikawasan tersebut terlihat mengalami kerusakan akibat abrasi dan mengalami penurunan ketinggian bahkan ada yang atapnya sudah rata dengan tanah.

Masluri (55) salah satu penduduk asli di tambak lorok, mengungkapkan hampir setiap 10 tahun sekali beliau harus membangun rumahnya kembali karena ketinggian rumahnya sudah rata dengan tanah akibat bencana abrasi dan rob, ditambah hampir setiap tahunnya meninggikan rumahnya untuk mencegah tempat tinggalnya terkena air rob maupun abrasi serta perbaikan rumah yang harus beliau lakukan secara berkala akibat kerusakan yang disebabkan becana dari alam tersebut, beliau menambahkan bahwa keadaan ini juga dialami oleh semua warga yang tinggal di kawasan tersebut.

Berdasarkan hasil obeservasi tersebut juga didapatkan fakta di lapangan, bahwa selain masih dihadapkan dengan masalah alam berupa air rob dan abrasi. Tambak Lorok juga masih dihadapkan oleh kesadaran masyarakatnya, kondisi sosial budaya masyarakat, serta kebijakan pemerintah yang dari dahulu masih belum memaksimalkan pembangunan di sektor maritim masih terfokus terhadap pembangunan di sektor darat. Hal ini terlihat dari observasi lapangan yang dilakukan, masyarakat di kawasan tambak lorok sendiri masih belum menyadari pentingnya berapa fasilitas penunjang bagi nelayan seperti tidak maksimalnya pemanfaatan PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan) karena sulitnya akses akses dan juga beberapa faktor penghalang seperti pendangkalan sungai sebagai tempat turun muatan Ikan untuk ke PPI. Sehingha fungsi PPI pun tidak maksimal

Tidak berjalannya kelompok-kelompok nelayan yang terdapat di kawasan tambak lorok membuat banyak kelompok nelayan yang mati dan ditinggalkan anggotanya. Pembangunan infrastruktur publik yang masih minim dan kurangnya perawatan membuat tambak lorok menjadi kawasan kampung nelayan yang kumuh dan masih jauh dari kata nyamanan untuk dihuni.

Ahmadi arif setiawan, ketua tim riset kampung bahari, hendaknya ada beberapa fakta permasalahan di lapangan yang harus dipertimbangkan. Baik itu sisi akademis serta kenginan masyarakat Tambak Lorok itu sendiri.

“Harus ada pertimbangan empiris dan pertimbangan akademis dalam rangka pembangunan kampung bahari ini”, katanya.

Membangunan tambak lorok menjadi “Kampung Bahari” harus mempertimabangkan beberapa aspek yaitu aspek ekologis baik hal yang bersifat alamiah maupun antropogenik, aspek sosial terkait dengan struktur sosial, budaya dan politik, dan aspek ekonomi masyarakat Tambak Lorok sendiri yang bergantung pada sumberdaya pesisir.

“Proyek Pembangunan Kampung Bahari Tambak Lorok harus mempertimbangkan daya tampung dan daya dukung kawasan tersebut agar kelak pembangunan Kampung Bahari di Tambak Lorok berjalan beriringan dengan perbaikan ekosistem,” tambahnya.

Pembangunan infrastruktur seperti pembangunan Giant Sea Wall dan juga Sabuk Pantai sangat dibutuhkan warga dikawasan tersebut dalam upaya peredaman abrasi serta penahan rob yang disebabkan oleh air laut, hal ini dilakukan dalam upaya untuk meminimalkan dambak bencana alam yang memang diluar kontrol manusia sementara kerusakan ekologis secara antropogenik adalah kerusakan ekologis akibat ulah manusia yang secara langsung maupun tidak langsung yang dapat ditanggulangi dengan cara pembinaan sosial budaya masyarakat setempat

Peneliti dan Pemerhati Maritim, Farhan Hakim (Foto: Farhan Hakim)
Peneliti dan Pemerhati Maritim, Farhan Hakim (Foto: Farhan Hakim)

Oleh karena itu, upaya peningkatan perekonomian masyarakat tambak lorok melalu program Kampung Bahari harus didahului dengan pengembangan aspek ekologis dan aspek sosial di kawasan tersebut hal ini dikarenakan cukup besar dampak yang diakibatkan bencana abrasi dan rob yang terdapat di kawasan tersebut hal ini juga sejalan dengan keinginan masyarakat setempat yang mengeluhkan besarnya biaya perbaikan serta pembangunan rumah kembali yang diakibatkan oleh bencana alam abrasi dan rob. Dengan terciptanya perbaikan ekologis lingkungan di Tambak Lorok serta dibarengi pembinaan sosial budaya masyarakat setempat diharapkan kebijakan pemerintah semarang untuk mengembangkan sektor maritim khususnya program Kampung Bahari di Tambak lorot dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Farhan Hakim, Peneliti dan Pemerhati Maritim, mengungkapkan Pembangunan kawasan tambak lorok menjadi Kampung Bahari harus terdapat proses mendengarkan keinginan masyarakat (bottom up) bukan hanya apa rencana pemerintah (top down).

“Strategi pembangunan harus bersifat botttom-up”, katanya,

Proses pembangunan Kampung Bahari Tambak lorok dapat disesuaikan dengan kondisi Sosio-kemasyarakatan setempat, hal ini dapat dilakukan dengan adanya sosialisasi dan pembimbingan masyarakat baik oleh pemerintah maupun akademisi, serta penunjukan tokoh masyarakat yang dapat menggerakkan masyarakat di kawasan tersebut sehingga dapat mengubah perspektif masyarakat dan outputnya diharapkan akan tercipta keselarasan antara pembangunan program Kampung Bahari dan Sosio-Kemasyarakatan di Tambak Lorok.

One thought on “Merumuskan Arah Kebijakan Tambaklorok Sebagai Kampung Bahari

Comments are closed.