Menggagas Jateng Sebagai Pusat Herbal Nasional

Jamu merupakan salahvarietas terbanyak yang dimiliki jateng (Foto: akobiarek 14 Blogspot)
Jamu merupakan salahvarietas terbanyak yang dimiliki jateng (Foto: akobiarek 14 Blogspot)

Semarangkota, SEMARANGDAILY**Sebagai propinsi dengan kekayaan tanaman obat yang lengkap dan didukung oleh industri jamu yang sangat banyak, Jawa Tengah perlu memiliki Pusat Herbal Nasional. Demikian disampaikan oleh Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang, Noor Ahmad, seperti dilansir dalam laman resmi unwahas.ac.id.

Noor Ahmad menunjuk Pusat Herbal yang dimiliki oleh negeri Cina. Setiap berkunjung ke negeri yang menjadi rujukan dalam perkembangan pengobatan herbal tersebut, dia selalu dibelokkan ke Pusat Herbal tersebut, dan dia selalu membeli obat herbal yang dipamerkan di sana.

“ Tetapi ini menunjukkan bahwa obat herbal Cina ternyata mampu menyedot perhatian masyarakat Indonesia dan menjadi salah satu komoditi yang menarik. Orang yang tidak sakit pun tertarik untuk membelinya.”

Dengan banyaknya industri jamu di Jawa Tengah, tambah Noor Ahmad, didukung kekayaan tanaman obat yang melimpah dan dilengkapi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) yang berada di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah berpotensi mengembangkan Pusat Herbal Nasional yang menjadi perpaduan antara pusat penelitian, produksi, pemasaran, dan wisata.

Setali tiga uang, Asisten III Bidang Kesra, Djoko Sutrisno, mengamini hal itu. Menurut Djoko, Pemerintah Jawa Tengah sangat peduli terhadap perkembangan pemanfaatan tanaman obat. Wilayah hutan tropik Indonesia yang demikian luas mengandung 9600 spesies yang diketahui berkhasiat sebagai tanaman obat. Tetapi sampai sekarang, jelas Djoko, baru sekitar 300 spesies saja yang digunakan sebagai obat tradisional oleh industri. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perlu dorongan dari pemerintah agar industri obat tradisional mampu memaksimumkan upayanya dalam pemanfaatan herbal melalui riset yang lebih terarah dan terpadu.

Seperti dijelaskan dalam laman resmi provinsi Jateng, Ganjar mengusulkan agar pengelolaan jamu sebagai obat herbal diatur Kementerian Kesehatan dan selanjutnya dikembangkan secara modern seperti di negara Cina. Kebijakan politis lain yang dapat diambil pemerintah adalah mendirikan pendidikan kedokteran berbasis herbal.

Komitmen Pemerintah

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani baru meluncurkan jamu saintifik. Menurut Puan, jamu saintifikasi merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam melestarikan dan membudayakan jamu. Jamu terbukti aman dan berkhasiat untuk dikonsumsi karena telah diteliti dan bisa dibuktikan manfaatnya secara ilmiah.

Untuk mengenalkan jamu ke kancah internasional, Puan berencana menempatkan konter jamu di seluruh bandara internasional di Indonesia. Selain itu, dia juga berkomitmen untuk melindungi jamu dari klaim negara lain dengan hak paten.

“Jamu merupakan warisan budaya asli Indonesia yang secara turun temurun telah diwariskan. Selain itu, jamu juga merupakan aset nasional yang sangat potensial dan harus dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi komoditi kesehatan dan sumber ekonomi unggulan serta sebagai jati diri bangsa,” tutur Puan.

Puan berharap jamu yang sudah bersaintifikasi dapat bersaing dengan obat-obatan modern. Apalagi pada tahun ini Indonesia akan memasuki pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).