Integrated Farming System, Langkah Kongkret Wujudkan Swasembada Pangan

Presiden RI, Jokowi, saat panen raya jagung di Blora. (Foto: Jatengprov)
Presiden RI, Jokowi, saat panen raya jagung di Blora. (Foto: Jatengprov)

Kota Semarang, SEMARANGDAILY**Produksi pertanian yang diimplementasikan secara terpadu dengan sektor kehutanan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karenanya, Preside, Joko Widodo, menekankan pentingnya Integrated Farming System (IFS) sebagai langkah konkret dalam mewujudkan swasembada pangan di tanah air.

“Kita ini kan mempunyai hutan jati, terutama Perhutani. Juga, PTP yang mempunyai kelapa sawit. Itu bisa dikombinasi antara tanaman hutan dan tanaman pertanian. Seperti saat ini (sudah dikombinasikan) jati dan jagung,” kata Presiden Jokowi, seperti dilansir dalam Jatengprov.or.id, Sabtu, (7/3/15)

Menurutnya, IFS dengan metode tumpangsari tersebut merupakan langkah yang tepat untuk mengoptimalkan lahan yang tidak produktif. Salah satu bukti, tumpangsari lahan jati yang ditanami pula jagung di petak 18 a RPH Ngodo, BKPH Ngliron mampu menghasilkan panen sebesar 7,6 ton pada tahun 2016. Hasil panen ini bahkan meningkat dibanding tahun sebelumnya.

“Ini (mengoptimalkan) lahan yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak produktif dan tidak dimanfaatkan. Di sini (petak 18 a RPH Ngodo, BKPH Ngliron, Kabupaten Blora) per hektar bisa mencapai 7,6 ton,” terangnya.

Presiden menuturkan, kunjungan kerjanya di Ponorogo, Jawa Timur Jumat (6/3) lalu pun untuk meninjau produktivitas kombinasi kayu putih (sektor kehutanan) dengan jagung (sektor pertanian). Hasil panen di Ponorogo mencapai 5,4 hingga 5,6 ton. Surplus hasil panen tumpangsari mampu mendongkrak pendapatan masyarakat setempat. Dengan meningkatnya tingkat ekonomi, masyarakat tidak akan merambah lahan hutan.

“Ini kan produksi yang sangat tinggi. Kalau dikalikan per kilo 2800 rupiah, itu sudah gede banget. Sudah puluhan juta. Kalau per KK (kepala keluarga) dibagi 5 KK misalnya, sudah empat juta. Jagung tiga bulan, dibagi tiga lagi kira-kira sudah 1,3 juta. Income yang sudah bagus menurut saya bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan agar mereka tidak merambah hutannya itu sendiri,” paparnya.

Stimulus Sektor Pertanian

Pemerintah pusat, tambahnya, masih akan memberikan stimulus di sektor pertanian dan kehutanan. Seperti benih gratis yang akan diberikan oleh Kementerian Pertanian. Juga, pupuk bersubsidi akan diberikan untuk satu juta hektar lahan pada tahun 2015.

“Di sini kita bicara dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Pertanian, Pak Gubernur (Jawa Tengah), Menteri BUMN, Perhutani, dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Nanti contoh (IFS) ini akan diperluas. Akan diberikan benih dari Menteri Pertanian gratis. Sehingga nanti akan kelihatan, terjadi peningkatan berapa dari lahan-lahan Perhutani dan PTP. Semuanya bisa ditanami,” jelasnya.

Presiden juga memproses pengaturan panen tidak serempak antar daerah. Tujuannya, menjaga kestabilan harga komoditi baik pada pra-panen, saat panen, ataupun pasca panen.

“Siklus panen memang harus diatur antar pulau, antar provinsi, antar daerah. Jangan sampai kejadiannya panen bersama-sama dari Sabang sampai Merauke kemudian harganya jatuh bersamaan. Begitu tidak ada panen harganya langsung melambung tinggi,” imbaunya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang turut mendampingi presiden mengatakan hendak memperdalam kerjasama dengan Kementerian LHK, Kementerian Pertanian, Perhutani, dan UGM. Menurutnya, IFS yang sudah mulai diterapkan di beberapa daerah di Jawa Tengah merupakan contoh keberhasilan. Sehingga, implementasinya dapat direplikasi untuk daerah lainnya.

“Kerja sama ini akan diulang dan kemudian didorong. Bahkan ada rencana membuat teaching forest. Kira-kira butuh lahan 10 ribu hektar,” terangnya.

Melalui teaching forest ini, akan dipantau secara kontinyu bagaimana pertumbuhan tanaman, pemanfaatan, cara tanam, juga tanaman yang berpotensi untuk dilakukan tumpangsari. Misalnya padi, jagung, hingga empon-empon.

“Dipantau terus-menerus sehingga menjadi lab (laboratorium). Kita harapkan forester-forester muda bisa masuk, bisa kita sertifikasi sehingga Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bisa berhasil. Pak Presiden sudah meninjau konsepnya, UGM dan Perhutani sudah menyiapkan, Pemprov Jateng membridging, mencoba untuk fasilitasi,” pungkasnya.