Potensi Social Media Untuk Pengembangan UMKM Dalam Masyarakat Ekonomi Asean

Potensi Social Media Sangat Besar Untuk Sambut MEA (Foto : Kompasiana)
Potensi Social Media Sangat Besar Untuk Sambut MEA (Foto : Kompasiana)

Kota Semarang, SEMARANGDAILY**Menjelang tahun 2015, semua negara di Asia Tenggara kini tengah sibuk mempersiapkan diri menghadapi era baru kegiatan perekonomian bebas yang disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). MEA merupakan bentuk kerjasama regional ASEAN yang lahir dari penandatanganan piagam ASEAN dan Blueprint ASEAN menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 oleh para pemimpin negara ASEAN pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-13 yang dilaksanakan di Singapura pada 20 November 2007 silam. 10 Negara ASEAN yang hadir dalam KTT tersebut telah bersepakat untuk membentuk integrasi ekonomi regional pada tahun 2015.

Dalam sebuah penelitian sebanyak 41 persen pelaku usaha mikro kecil menengah di Jawa Tengah tak tahu tentang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Temuan itu berdasarkan hasil penelitian Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dengan Bank Indonesia Wilayah Semarang belum lama ini.

“Dari pertanyaan paling mendasar saja apakah mengerti tentang MEA atau tidak, terbukti 41 persen pelaku UMKM tak tahu,” kata Peneliti Ekonomi, Universitas Kristen Satyana Wacana Salatiga Eko Suseno Matrutty, usai diskusi Peningkatan Daya Saing UMKM di Balai Kota Semarang, Senin (2/3).

Penelitian yang dilakukan oleh Eko itu dilakukan di 35 Kabupaten Kota se-Jawa Tengah dengan total sample 310 pelaku UMKM. Eko menyebutkan, selain tak paham tentang MEA, pelaku UMKM di Jawa Tengah juga masih lemah dalam aspek kelembagaan, sumber daya manusia (SDM), kapasitas menejemen dan penguasaan pasar.

Dorong Implementasi Media Sosial

Meski begitu Eko menyatakan kondisi itu dinilai belum terlambat dengan catatan pemerintah harus sosialisasi ke lewel pelaku UMKM di daerah. Hal itu dinilai penting karena pelaku UMKM di Jawa Tengah rata-rata belum melek tekhnologi. Tercatat selama ini pemasaran produk UMKM lewat online shop yang ada justru didominasi anak-anak muda yang melek tekhnologi. Kondisi itu tak bisa dipungkiri dengan nilai transaksi produk di online shop secara nasional mencapai Rp 1 triliun.

“Anak-anak muda kreatif hanya sebagai makelar tampilkan produk di halaman media sosial, kemudian ada pemesan dan transaksi,” katanya.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, Litany Satyawati menyatakan setiap tahun selalu menarget pelatihan bagi pelaku UMKM, termasuk soal pemasaran. Meski begitu Litani mengaku pelatihan itu masih terhambat oleh penganggaran dan perencaan. Menurut dia, salah satu hambatan utama bagi pengembangan produk UMKM di Kota Semarang adalah kurang percaya diri. Hal itu sering terjadi ketika ada produk industri besar yang masuk ke pasaran. “Padahal kualitas dan harga dari UMKM di Kota Semarang tak kalah, dan berani bersaing,” katanya.

Saat ini salah satu produk UMKM di Kota Semarang yang sedang marak adalah sulam pita yang dibuat menjadi beragam produk mulai dari kerudung, dompet, tas, tempat kosmetik, handphone dan hampir semua barang yang digunakan sehari-hari.

“Perajin produk kerajinan sulam pita itu sudah menyebar di sembilan kecamatan dari 16 kecamatan yang ada di Kota Semarang dan rencananya akan dibuat koperasi,” tegasnya