Gubernur Jateng Sabet Penghargaan Aditangguh

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Sabet Penghargaan Aditama
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Sabet Penghargaan Aditangguh

Jakarta, SEMARANGDAILY**Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menerima penghargaan Aditangguh atas pengabdian, kepemimpinan, dan jasa-jasanya yang luar biasa dalam penanggulangan bencana. Penghargaan diserahkan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, pada Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana 2015, di Hotel Bidakara Jakarta, Selasa (10/3).

Pihaknya mengungkapkan jika penghargaan tersebut merupakan kejutan dan hasil kerja keras baii dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, pemerintah kabupaten/kota, maupun seluruh masyarakat.

“Ini karena kerja masing-masing kabupaten/kota yang sangat responsif dan saya juga mengapresiasi. Penghargaan ini sungguh-sungguh saya persembahkan kepada mereka,” ungkapnya.

.Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Ma’arif, menyampaikan diberikannya penghargaan kepada Ganjar Pranowo karena perannya dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di Jawa Tengah. Pihaknya berharap kinerja tersebut dapat terus ditingkatkan. Selain itu, keselarasan dalam penanggulangan bencana dengan daerah lain pun mesti dibangun dengan baik mengingat bencana terjadi tidak mengenal batas wilayah dan bisa terjadi kapan saja.

Ditambahkan, BNPB dan BPBD adalah satu, dan tumbuh berkembang bersama seluruh elemen. Seperti TNI, Polri, Kementerian Negara, PMI, Tagana, NGO, relawan, dunia usaha, komunitas internasional, serta masyarakat. Sesuai tema Rakornas tahun ini, Selalu Hadir di Tengah Rakyat, menandakan negara selalu hadir di tengah kesulitan rakyat mengurai semua masalah.

“BNPB dan BPBD hadir di tengah masyarakat bukan melakukan charity, tapi memberikan solusi,” katanya.

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, menekankan agar pemerintah melalui BNPB dan BPBD dapat mengoptimalkan kerja sebelum terjadi bencana dengan memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada masyarakat mengenai penanganan bencana. Sehingga, saat terjadi bencana, efeknya dapat diminimalisasi.

“Untuk mengurangi efek, masyarakat harus tahu yang terjadi, dan apa yang harus dilakukan masyarakat jika terjadi bencana. Jangan berfikir BPBD hanya memasang tenda, dapur umum, angkat mayat, atau apa pun. Bukan,” tegas dia.

Kalla menunjuk contoh, gempa tidak pernah membunuh orang. Yang membunuh adalah akibat runtuhnya bangunan yang menimpa orang. Karenanya, gempa dapat diatasi dengan membuat bangunan agar tidak mudah roboh. Begitu pula dengan bencana tanah longsor seperti yang terjadi di Jawa Tengah belum lama ini. Longsor bukan hanya terjadi karena nasib, tapi kemungkinan akibat hutan di perbukitan atasnya sudah berkurang, menjadi lahan sayuran, atau karena masyarakat bermukim di bawah bukit yang berbahaya itu.

“Jadi, sebelum terjadi, lakukan hal-hal untuk mengatasi hal tersebut. Bencana dapat diatasi dan dikurangi efeknya dengan pengetahuan. Setiap bencana mempunyai efek yang berbeda-beda. Kita bisa belajar dari pengalaman yang sudah ada agar penanganannya lebih efektif,” tandas dia

Potensi Kampus

Ganjar akan terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh mulai tahap prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana di provinsi ini, dengan menggunakan sistem teknologi. Seperti, penerapan Early Warning System (EWS) yang dapat mendeteksi bencana sejak dini di wilayah paling rawan bencana melalui kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, melibatkan mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) dalam penanganan bencana, serta penggunaan grup whats app dengan anggota seluruh kabupaten/kota sebagai sarana menyampaikan informasi yang ada di Jawa Tengah. Mendatang, pihaknya terus mengembangkan kerja sama dengan perguruan tinggi se-Jawa Tengah.

“Saya bayangkan wilayah Jawa Tengah bagian timur bekerja sama dengan UNS, bagian utara dengan Undip, barat dengan Unsoed. Kalau ada pusat studi bencana yang bisa digerakkan, pasti top. Ada relawan-relawan yang luar biasa untuk pengurangan risiko bencana. Pramuka, Mapala, PMI, radio Orari, RAPI, juga luar biasa. Makin hari komunikasi mereka dengan saya luar biasa,” ungkap Ganjar.