Pegiat Kawasan Tanpa Rokok Semarang Gelar Seminar Ancaman Bahaya Merokok

pegiat kawasan tanpa rokok Kota Semarang bergabung dalam acara Seminar Nasional bertema “Pelajar Berprestasi Tanpa Rokok, Think Smart Withot Cigarette” (Foto: Setya Indra Arifin)
pegiat kawasan tanpa rokok Kota Semarang bergabung dalam acara Seminar Nasional bertema “Pelajar Berprestasi Tanpa Rokok, Think Smart Withot Cigarette” (Foto: Setya Indra Arifin)

Kota Semarang, SEMARANGDAILY**Pegiat kawasan tanpa rokok Kota Semarang bergabung dalam acara Seminar Nasional bertema “Pelajar Berprestasi Tanpa Rokok, Think Smart Withot Cigarette” yang diselenggarakan dalam rangka memberikan penyuluhan dan sosialisasi tentang ancaman bahaya merokok kepada para pelajar setingkat SMA se-Kota Semarang, Sabtu, (21/2/15).

Bertempat di gedung aula SMA Negeri 9 Semarang, panitia penyelenggara acara terdiri dari beberapa elemen gerakan peduli kawasan tanpa rokok seperti Yayasan LP2K (Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen) Jawa Tengah, MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan Konseling) Kota Semarang, PW PII (Pelajar Islam Indonesia) Jawa Tengah, KPKTR (Komunitas Peduli Kawasan Tanpa Rokok) Kota Semarang, serta didukung oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Menurut Abdul Mufid, salah satu penyelenggara sekaligus narasumber dalam acara ini, pihaknya mengundang sekitar 40 (empat puluh) sekolah setingkat SMA yang beralamatkan di sekitar Kawasan Semarang Atas (Banyumanik dan sekitarnya) yang antara lain seperti SMK Perintis 29 Semarang, SMA Muhammadiyah, SMAN 2 Semarang, SMAN 12 Semarang, MAN 2 Semarang dan sebagainya.

Hadir dalam acara ini sebagai narasumber adalah dokter paru, RSUP Kariadi Semarang, dr.Sofyan Budi Raharjo, anggota Yayasan LP2K Jawa Tengah, Abdul Mufid, serta perwakilan dari PW PII Jawa Tengah, Noverdi.

“Usaha-usaha semacam ini sebetulnya bukan yang pertama kali dan satu-satunya yang dapat dilakukan”, ujar Mufid. Dirinya mengaku bahwa sudah pernah pula mengupayakan agar pelajaran mengenai ancaman bahaya merokok masuk dalam kurikulum di sekolah, namun sayangnya belum dapat terealisasi.

Pengaruh Kesehatan

Dalam seminar tersebut disampaikan antara lain bahwa sebatang rokok mengandung 4000 (empat ribu) zat berbahaya bagi kesehatan. Tentunya hal tersebut membawa pengaruh dan efek yang tidak sedikit, salah satunya penyakit kanker paru-paru. Sampai saat ini, kasus-kasus yang ada telah menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kanker paru-paru terjadi pada perokok. Berdasarkan kasus yang ada di Indonesia dari tahun 2004-2006, 83,6% (delapan puluh tiga koma enam persen) dari 75,5% (tujuh puluh lima koma lima persen) kasus kanker paru-paru yang terjadi pada laki-laki diderita oleh perokok dan 24,5% (dua puluh empat koma lima persen) sisanya yang diderita oleh perempuan, 43,4% (empat puluh tiga koma empat persen)-nya adalah perokok. Sayangnya, komitmen Pemerintah belum sepenuhnya memperlihatkan gejala yang baik. Hal ini seperti ditunjukkan oleh belum diratifikasinya Konvensi Internasional mengenai Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau yang dikenal dengan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) yang memberikan kerangka kerja dalam upaya pencegahan.

Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB ini mendapat antusias cukup tinggi dari peserta yang hadir. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para siswa pun beragam dan cukup kritis menanggapi isu dan masalah yang terkait dengan bahaya merokok. Mulai dari hal-hal kecil seperti mengingatkan supir angkot yang merokok di hadapan penumpangnya, hingga mempertanyakan peran Pemerintah dalam pengendalian dampak tembakau menjadi topik-topik hangat yang muncul dari benak para siswa pada saat sesi diskusi berlangsung.

Selain arena diskusi, terdapat pula stand-stand kesehatan di teras gedung yang menyediakan tes-tes kesehatan antara lain tes CO (karbon monoksida) dan tes HIV/Aids maupun konsultasi lain bagi para peserta maupun pengunjung yang hadir.

Sudono, guru BK di SMAN 2 Semarang sebagai salah satu tamu undangan yang hadir mengatakan bahwa acara yang dihadirinya sungguh penting bahkan perlu untuk diadakan secara berkala dan berkelanjutan minimal 4 (empat) atau 6 (enam) bulan sekali sebagai langkah preventif yang dapat diambil dalam mengendalikan dampak dan bahaya rokok.

“Sekolah saya aman-aman saja (dari bahaya rokok), karena yang terpenting adalah input bagi para siswa. Asalkan inputnya baik, lingkungan pergaulan baik, rokok bukanlah lagi merupakan ancaman”, katanya.

Input yang dimaksud merupakan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang mulai dari keluarga, masyarakat maupun lingkungan lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi cara pandang siswa perlu untuk dikendalikan, seperti misalnya iklan rokok yang ada di televisi, Sudono berpendapat bahwa anehnya iklan rokok justru tidak menonjolkan akibat merokok. Oleh karena itu menurutnya diperlukan dukungan dari segenap pihak khususnya pihak-pihak yang berkompeten dan juga peran pemerintah perlu ditingkatkan.

“Menutup pabrik rokok memang akan sulit, tetapi dengan mencegah generasi bangsa untuk tidak merokok sehingga menghasilkan generasi bebas rokok yang cerdas, adalah tanggung jawab pemerintah”, ungkapnya.

Pemuda adalah harapan bangsa, memiliki cita-cita tinggi demi kehidupan di masa yang akan datang. Hal ini sejalan dengan pemikiran salah satu siswa dari MAN 2 Semarang saat ditanya mengenai kondisi pemuda saat ini. M. Izul Fuad mengungkapkan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan di masa saat ini maupun jangka panjang 20 (dua puluh) tahun ke depan.

“Rokok bagi pelajar dapat memutuskan harapannya”. Jelasnya.