Ocky Karna Radjasa: Hilirisasi Penelitian, Perguruan Tinggi Bisa Langsung Selesaikan Persoalan Sosial

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Undip, Prof Ocky Karna Radjasa. (Foto: Sindo)
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undip, Prof Ocky Karna Radjasa. (Foto: Sindo)

Tembalang, SEMARANGDAILY**Universitas tidak hanya berorientasi pada pendidikan, akan tetapi universitas juga harus terlibat dalam memecahkan persoalan bangsa secara langsung. Oleh karena itu, hilirisasi dan komersialisasi penelitian harus didorong. Hal ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro Semarang, Ocky Karna Radjasa, saat ditemui oleh Semarangdaily dikantornya, Senin, (16/2/15).

Ia mengungkapkan bahwa perguruan tinggi sebagai pusat ilmu pengetahuan, harus mampu memecahkan persoalan sosial. Kampus tidak boleh menjadi menara gading ditengah masyarakat, artinya kampus harus mampu memberikan dampak positif masyarakat disekitarnya.

“Sudah saatnya perguruan tinggi, sebagai pusat ilmu, mampu memecahkan masalah sosial dan tidak menjadi menara gading di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Ocky mengungkapkan bahwa penelitian sudah saatnya dihubungkan dengan hilirisasi dan komersialisasi penelitian. Hilirisasi dan komersialisasi penelitian sangat penting karena penelitian yang sudah dilakukan tidak boleh hanya berhenti pada laporan. Namun, penelitian harus mampu secara langsung diaplikasikan untuk menyelesaikan kebutuhan masyarakat.

Ia mencontohkan bahwa dalam bidang pengolahan limbah ternak misalnya, sudah ada teknologi yang secara langsung dapat mengolahnya menjadi gas, yang dapat dimanfaatkan menjadi energi seperti listrik. Sehingga, kebutuhan listrik masyarakat dapat dipenuhi. Padahal, seperti diketahui, akhir-akhir ini banyak persoalan kurangnya pasokan listrik yang terjadi di negara ini.

Oleh karena itu, Ocky mengungkapkan sudah saatnya universitas merubah paradigmanya. Yaitu, mengarah pada konsep hilirisasi penelitian dan komersialisasi yang mampu memecahkan persoalan masyarakat.

Ia menggaris bawahi, bahwa teknologi riset yang dihasilkan dalam penelitian tidak harus berteknologi canggih, yang terpenting adalah mampu menjadi problem solving bagi masyarakat.

“Penelitian tidak harus dengan menghasilkan teknologi yang canggih dan sophisticated, tapi prinsipnya adalah mampu memecahkan masalah dan langsung berdampak positif”, Kata Guru Besar Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan tersebut.

Selain itu, ditengah industrialisasi yang begitu masif, teknolgi juga harus mendukung industri dengan inovasi-inovasinya. Hal ini agar dapat mendorong industri yang ada dapat bersaing.

Potensi Riset

Ocky mengatakan jika universitas memiliki potensi besar dalam bidang riset. Sebagai Ketua LPPM Undip, Ia mengatakan bahwa Undip sendiri memiliki potensi besar karena didukung oleh sekitar 1.700 staf pengajar, dengan sekitar 25 % bergelar doktor dan 130-an guru besar aktif.

“Didukung oleh sekitar 1.700 staf pengajar, dengan sekitar 25% doktor dan 130-an guru besar, Undip memiliki potensi besar dalam bidang riset,” katanya.

Tidak hanya itu, Undip masuk kategori sebagai universitas mandiri berbasis kinerja penelitian dan pengabdian masyarakat, serta mendapat peringkat ke-6 perguruan tinggi yang menghasilkan publikasi internasional terindeks Scopus.

Seperti diketahui, dimasa pemerintahan Presiden Joko Widodo, memberikan perhatian besar terhadap riset yang dapat langsung menjawab tantangan pasar. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir, mendorong penuh agar para peneliti untuk melakukan riset yang berdasarkan permintaan (base on demand). Hal ini karena agar penelitian tersebut akan berguna bagi masyarakat.