Geopark Gunung Sewu Berpotensi Kembangkan Ekonomi Lokal

Salah satu sudut gunung sewu (Foto: Petrasawacana WordPress)
Salah satu sudut gunung sewu (Foto: Petrasawacana WordPress)

Yogyakarta, SEMARANGDAILY**Pengembangan dan pelestarian geopark Gunung Sewu menjadi perhatian serius pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Jawa Timur karena keanggotaannya sebagai jaringan geopark internasional UNESCO masih tertunda akibat belum optimalnya aspek kelembagaan pengelolaan geopark.

Bentuk keseriusan terhadap geopark Gunungsewu diwujudkan dengan penandatanganan MoU oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Selain tiga gubernur, penandatanganan MoU juga dilakukan oleh tiga bupati yang wilayahnya termasuk ke dalam Geopark Gunung Sewu. Yakni, Bupati Gunungkidul Badingah, Bupati Wonogiri Danar Rahmanto, dan Bupati Pacitan Indartato. Penandatanganan MoU dilakukan di Bangsal Kepatihan Yogyakarta dan disaksikan oleh Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono.

Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan kerjasama ini merupakan wujud keinginan bersama pemerintah daerah untuk melestarikan warisan geologis yang sudah ada jutaan tahun lalu. Ia berharap, dengan pengelolaan bersama akan meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar geopark.

“Sasaran dari pengembangan geopark ini ada tiga, konservasi, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, adanya penundaan keanggotaan oleh UNESCO harus disikapi dengan penataan pengelolaan yang baik, agar nantinya geopark tersebut diakui oleh dunia,” katanya saat memberi sambutan.

Setelah penandatangan MoU dilakukan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta untuk segera melakukan rencana aksi. Sehingga, pengakuan dari dunia internasional bisa segera didapatkan. Dia berpendapat adanya pengakuan tersebut sangat berdampak besar bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. Diapun berharap kerjasama pengelolaan geopark Gunung Sewu mengacu pada pasal 33 UUD 1945.

“Kita harus segera membuat rencana detail untuk itu. Seperti pemanfaatannya, area untuk konservasi, bagaimana risetnya, bagaimana itu diberdayakan untuk pariwisata, dan kemudian bisa kita dorong nanti ke UNESCO. Setelah mendapat pengakuan, kita juga harus menggemakan ke seluruh dunia,” katanya.

Menurut Ganjar, untuk memaksimalkan kawasan geopark Gunung Sewu yang didominasi daerah kering dan dianggap tidak produktif, butuh kerja keras. Karenanya, harus ada trend yang dapat mengangkat popularitas wilayah tersebut. Dia mencontohkan tren batu akik asal Pacitan yang kini sedang ‘naik daun’.

“Tren yang luar biasa saat ini adalah batu akik. Saya yakin imbas dibawahnya banyak sekali. Tapi kita tidak mengeksploitasi ke sana, namun lebih ke pemanfaatan untuk kesejahteraan warga. Ada pariwisata, ada riset, dan seterusnya,” ujarnya.

Geopark Gunung Sewu yang berada di tiga kabupaten dan tiga provinsi dengan luas 1.802 km2 sudah ditetapkan sebagai geopark nasional sejak 13 Mei 2012. Namun dari penilaian tim asesor UNESCO, keanggotaan Geopark Gunung Sewu dalam jaringan geopark internasional UNESCO ditunda karena kelembagaan pengelolaan Geopark Gunung Sewu belum optimal. Jika nantinya diakui UNESCO, maka akan ada empat geopark yang ada di Asia tenggara. Saat ini baru ada tiga geopark yang masuk ke jaringan geopark internasional UNESCO di wilayah Asia Tenggara, yakni Geopark Langkawi di Malaysia, Geopark Dong Van Karst Plateu di Vietnam, dan Geopark Batur di Bali.

Pelestarian Karst

Sementara itu, praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, mengatakan, Geopark Gunung Sewu harus memperhatikan pelestarian karst. Karena, penambangan akan berdampak pada lingkungan dan gaya hidup masyarakat yang tidak selalu baik.

Ia menjelaskan, pariwisata karst yang dapat dikembangkan adalah wisata pantai berpasir putih, panjat tebing, susur gua, wisata sejarah, dan wisata religius.

“Sejarahnya, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY memang memiliki keterkaitan erat. Secara kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya, juga secara alam yang memiliki keterhubungan,” pungkasnya.