Tantangan dan Strategi Sektor Kelautan dan Perikanan Jateng

Potensi Jateng terutama hasil perikanan menjadi daya tarik sendiri yang memungkinkan dilakukan kerjasama dengan Taiwan (Foto: Info Akuakultur Blogspot)
Potensi Jateng terutama hasil perikanan menjadi daya tarik sendiri (Foto: Info Akuakultur Blogspot)

Kota Semarang, SEMARANGDAILY**Peneliti dan Pemerhati Maritim, Farhan Hakim, mengatakan bahwa Indonesia memilliki potensi besar dalam bidang kelautan dan perikanan. Ia juga mengungkapkan Semarang harus mampu mendorong optimalisasi sektor ini.

“Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi besar dalam bidang kelautan dan perikanan. Oleh karena itu, Semarang, sebagai daerah yang langsung bersentuhan dengan laut, harus mengoptimalisasi aspek ini”, katanya.

Farhan juga mengungkapkan bahwa letak geografis adalah alasan mengapa hal ini penting untuk didorong secara serius.

“Semarang memiliki potensi maritim yang sangat besar secara geografis. Maka, sektor kelautan dan perikanan adalah sektor yang harus didorong secara penuh,” tambahnya.

Farhan mengatakan bahwa Kota Semarang memiliki beberapa infrastruktur maritim yang mampu dioptimalkan. Sehingga, akan mampu memberikan dampak yang signifikan. Semarang memiliki pelabuhan niaga, memiliki balai perikanan tangkap nasional, dan ini harus dimaksimalkan.

Tidak hanya itu, pemerintah kota Semarang harus memberikan dorongan berupa program-program yang sejatinya dapat memberikan kemudahan dalam mengangkat sektor kelautan dan perikanan sehingga menjadi komoditas utama kota Semarang.

Magnet Investasi

Direktur Taiwan Business Club Indonesia tertarik dengan Kadin Jateng untuk melakukan kerjasama ekonomi dan perdagangan. Potensi Jateng terutama hasil perikanan menjadi daya tarik sendiri yang memungkinkan dilakukan kerjasama.

Mengingat terdapat juga beberapa pengusaha Taiwan yang terlebih dahulu telah melakukan bisnis di Jateng. Upaya untuk membuka peluang tersebut dilakukan penandatanganan MOU antara Kadin Jateng dengan Taiwan Business Club Indonesia, Desember lalu.

Penandatanganan MOU ini dilakukan di Vina House Semarang Untuk Kadin Jateng diwakili oleh Wakil Ketua Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional, Bernadus Arwin dan pihak Taiwan diwakili Direktur Business Club, Chou Tsung Ho

Seperti diketahui, saat ini terdapat 70 pengusaha Taiwan yang aktif, melalui kerjasama ini membuka komunikasi antara kedua belah pihak sehinga saling mengenal dan menggalang potensi masing masing di masa mendatang

Kerjasama Pemprov NTT

Ganjar Pranowo mengatakan Jateng telah melakukan MoU bidang perikanan dengan NTT (Foto: Ganjar Pranowo Blogpot)
Ganjar Pranowo mengatakan Jateng telah melakukan MoU bidang perikanan dengan NTT (Foto: Ganjar Pranowo Blogpot)

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) tertarik dengan potensi perikanan di NTT. Gubernur Jateng Ganjar Prano membuat MoU bersama Pemerintah Provinsi NTT di bidang perikanan. Kerjasama antar pemerintah itu dilakukan oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dengan Gubernur NTT Frans Lebu Raya , Desember lalu.

Ganjar mengakui potensi perikanan NTT sangat besar sehingga jika dikelola secara optimal akan bisa memberikan keuntungan bagi masyarakat NTT, tapi juga akan memberikan nilai tambah ekonomi bagi negara.

Ganjar Pranowo menyebutkan, nilai investasi belum dibicarakan secara khusus antara Pemerintah Jateng dengan Pemerintah NTT, namun dia memperkirakan nilai investasi bisa mencapai Rp 1 triliun atau lebih. Ganjar mengatakan, akan terjadi lagi serangkaian pembicaraan yang lebih bersifat teknis antara kedua pemimpin daerah (Gubernur Jateng dan Gubernur NTT) sehingga kerjasama itu bisa menguntungkan kedua daerah.

Realisasi Blue Economy

Farhan mengungkapkan bahwa fokus dan perhatian kebijakan pemerintah kota Semarang terhadap sektor kelautan dan perikanan belum optimal. Hal ini terlihat dimana model pembangunan yang ada di semarang masih berorientasi pada daratan (Land Based Development), belum berorientasi pada sektor kelautan (Ocean Based Development).

Selain itu, kebijakan masih mengarah pada sektor pabrik atau industri kawasan. Gambaran ini menunjukkan bahwa pemerintah masih perlu memberikan perhatian khusus terhadap sektor kelautan dan perikanan.

“Semarang lebih pada pabrik atau kawasan industri bukan ke perikanan. Hal ini karena belum ada inisiatif baik dari pemerintah untuk menerapkan blue economy secara maksimal,” katanya.

Farhan menjelaskan, jika industri berbasis blue economy ini dilaksanakan, ada beberapa keuntungan yang dapat diambil.

“Ada beberapa keuntungan yang bisa diambil, diantaranya untuk input pemerintah khususnya pemerintah kota semarang. Dari sektor pendapatan per kapita dan akan menaikkan taraf kehidupan stakeholder perikanan khususnya pelaku perikanan dari sektor lingkungan daerah semarang akan lebih terjaga”, tambahnya.

Konsep ini bisa menawarkan platform yang luas dari ide-ide inovatif yang telah diimplementasikan di dunia. Ide ini juga dapat menginspirasi kaum muda semarang dan mendorong untuk beriwarusaha di setiap sektor bisnis kelautan dan perikanan melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara berkelanjutan.

Seperti diketahui, bahwa industri berbasis blue economy adalah segala proses perekonomian yang merujuk kepada laut. Hal ini terdiri dari semua aspek dari penangkapan, pengolahan, budidaya, pariwisata, niaga, sampai aspek pelestarian sumber daya alam kelautan tersebut.

Sejak diperkenalkannya konsep “Blue Economy” oleh Gunter Pauli melalui bukunya The Blue Economy : 10 years, 100 innovations, and 100 million jobs (2010). Buku ini mengilhami sebuah konsep yang seolah mengajak masyarakat global untuk merubah paradigma bagaimana mengelola sumberdaya alam secara optimal, arif dan berkelanjutan. Gunter Pauli melalui konsep Blue Economy mencoba menawarkan solusi untuk menjawab tantangan bahwa sistem ekonomi dunia cenderung eksploitatif dan secara nyata telah merusak lingkungan. Ekspolitasi terhadap SDA ini telah melebihi kapasitas atau daya dukung yang ada.

Pada tahun 2014 ini 21 negara Asia Pasifik telah menyepakati Blue Economy sebagai fokus utama kerja sama kemitraan antarnegara anggota APEC. Hal itu tertuang dalam Deklarasi Xianmen yang disahkan pada Pertemuan Tingkat Menteri Kelautan APEC 2014.

Tidak hanya itu, ada tiga bidang kerja sama lainnya yang menjadi prioritas yakni, konservasi ekosistem laut dan pesisir serta ketahanan terhadap bencana alam. Kedua, peran laut terhadap keamanan pangan dan perdagangan yang berhubungan dengan pangan, serta ketiga adalah terkait ilmu kelautan, teknologi dan inovasi.

Seiring dengan tuntutan modernisasi dan pandangan dunia internasional, Farhan mengungkapkan bahwa perguruan tinggi sejatinya memilik peran yang startegis untuk membangun dan menggerakan konsep ini hadir dalam pembangunan industri yang ada di Semarang.

“Perguruan tinggi harus menjadi institusi yang memberikan pemahaman dan pengetahuan blue economy kepada masyarakat, dan khususnya para stakeholders,” pungkasnya.

Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut berperan aktif, bukan pasif terhadap diseminasi ide blue economy ini.