Tantangan dan Strategi Semarang Menyambut MEA 2015

Potensi Semarang Meyongsong Masyarakat Ekonomi Asean 2015 Harus Disiapkan
Potensi Semarang Meyongsong Masyarakat Ekonomi Asean 2015 Harus Disiapkan (Foto: kemenlu)

Kota Semarang, SEMARANGDAILY**Tahun 2015, semua negara di Asia Tenggara kini tengah sibuk mempersiapkan diri menghadapi era baru kegiatan perekonomian bebas yang disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC).

MEA merupakan bentuk kerjasama regional ASEAN yang lahir dari penandatanganan piagam ASEAN dan Blueprint ASEAN menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 oleh para pemimpin negara ASEAN pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-13 yang dilaksanakan di Singapura pada 20 November 2007 silam. 10 Negara ASEAN yang hadir dalam KTT tersebut telah bersepakat untuk membentuk integrasi ekonomi regional pada tahun 2015.

Pasar Tradisional

Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, mengatakan bahwa salah satu fokus yang harus diberikan seiring berlakunya MEA adalah pasar tradisional. Sehingga, pihaknya menyampaikan akan mendukung pasar tradisional untuk hadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Hal ini Ia sampaikan melalu akun twitternya, @hendrarprihadi, saat menjawab berbagai pertanyaan masyaraka di media sosial, Oktober lalu.

“Perlu diketahui bahwa saya justru terus berusaha agar pasar tradisional tidak ditinggalkan oleh masyarakat modern. Kita perlu sadar kalau tuntutan masyarakat modern tidak bisa dicegah, apalagi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan dibuka akhir 2015,” ungkapnya.

Ia menyampaikan bahwa MEA akhir 2015 akan hadir. Sehingga mau tidak mau semua pelaku usah harus siap. Ia juga mengungkapkan para pelaku usaha lokal harus bertransformasi

“kita harus siap untuk menghadapi serbuan barang impor, karena itu pelaku usaha lokal harus bertansformasi,” katanya.

Karena itu pihaknya merampungkan renovasi Pasar Rasamala dan Pasar Jrakah, Pasar Bulu tahun ini selesai, Pasar Klitikan, Pasar Peterongan, dan Pasar Rejomulyo di 2015.

???
Walikota Semarang, Hendrar Prihadi Mendorong Pasar Siap Hadapi MEA 2015. (Foto : Suara Nusantara)

Pelaksanaan rehab pasar-pasar tradisional Semarang, supaya masyarakat lebih nyaman dalam berbelanja dan tetap eksis dalam persaingan dengan pasar modern. Ia mencontohkan bahwa masyarakat bisa belajar dari penataan pedagang kaki lima di Simpang Lima yang sekarang jadi Shelter Pujasera, agar tidak kalah dengan restoran.

Perlindungan Konsumen

Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) memberikan atensi bersar terhadap perlindung konsumen. Oleh karena itu, Unissula memfasilitasi penyelenggarakan kegiatan Motivator Mandiri Bagi Masyarakat. Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Konsumen, Direktorat Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Desember lalu.

Wakil Rektor III Unissula, Sarjuni, mengharapkan agenda kegiatan yang ada agar dapat membangun kemampuan pengetahuan dan pemahaman menjadi konsumen cerdas.

“Mendapatkan pengetahuan dan pemahaman bagaimana menjadi konsumen yang cerdas,” katanya.

Sosialisasi yang dilakukan memiliki hubungan dengan bagaimana masyarakat Indonesia akan menanggapi dan mengantisipasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015. Salah satu langkah strategis yang harus dilakukan adalah perlindungan konsumen. implementasi penegakan Undang-Undang (UU) Perlindungan Konsumen Nomor 8 tahun 1999 saat ini masih belum maksimal direalisasikan. Banyak kasus yang melanggar UU tersebut yang pada akhirnya tidak berlanjut ke ranah hukum

Dalam hal ini konsumen dituntut cerdas. Konsumen adalah konsumen yang bukan hanya sekedar mengkonsumsi apa saja yang tersedia di pasaran, tetapi jugajuga kritis dan berani memperjuangkan haknya apabila barang/jasa yang dibelinya tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan tidak sesuia dengan yang diperjanjikan, tetapi konsumen juga harus megerti akan kewajibannya.

Seperti diketahui, pada 2015 nanti, Indonesia akan menyambut pasar bebas aktif ASEAN atau yang biasa disebut MEA. Dengan berpartisipasinya Indonesia dalam MEA ini, nantinya barang-barang dari ASEAN akan sangat mudah masuk ke pasar dalam negeri.

Untuk itu, konsumen Indonesia harus menjadi konsumen yang cerdas, mandiri dan mencintai produk dalam negeri. Cerdas dan teliti dalam hal memilih kualitas barang yang benar-benar baik sehingga tidak mudah tertipu dengan iming-iming harga murah.

Selain itu, membangun sifat mencintai produk lokal juga harus ditanamkan sedini mungkin, karena menurutnya banyak barang kualitas dalam negeri yang tidak kalah saing dengan barang dari negara lain. Sehingga diharapkan barang-barang lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Kompetensi Individu

Ketua Himpuan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang, Aat Eska, mengugkapkan bahwa MEA merupakan dampak dari perkembangan ekonomi global yang tidak bisa dihindarkan. Hal ini merupakan keniscayaan. Oleh karena itu, tugas setiap orang adalah menyiapkan meningkatkan kompetensi diri.

“Tugas kita hari ini adalah menyiapkan kompetensi dan meningkatkan kapasitas diri agar nantinya kita siap untuk bersaing,” katanya, saat dihubungi oleh Semarangdaily, Rabu (28/1/15)

Ia mengungkapkan jika, setiap masig-masing orang akan bersaing dengan tenaga kerja yang akan berduyun-duyun datang ke Indonesia.

Aat menyampaiakan pihaknya kini sudah memulai utuk melakukan sosialisasi dalam forum-forum baik formal maupun non formal tentang kesadaran akan pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini penting karena selama masih menjadi mahasiswa adalah memon yang pentig untuk menyiapkannya pengembangan diri.