Sido Muncul dan Pertuni MoU Pelatihan Budidaya Tanaman Obat

Sido Muncul dan Pertuni melakukan nota kesepahaman (MOU) pelatihan budidaya Tanaman Obat (Foto: Sidomuncul)
Sido Muncul dan Pertuni melakukan nota kesepahaman (MOU) pelatihan budidaya Tanaman Obat (Foto: Sidomuncul)

Kota Semarang¸SEMARANGDAILY**Guna membantu mengentaskan kemiskinan bagi para tunanetra, khususnya yang tinggal di pedesaan dimana biasanya mereka masih punya lahan untuk bertani, Sido Muncul dan Pertuni mengadakan kerjasama pelatihan budidaya dan pengembangan bahan baku/tanaman obat.

Sido Muncul dan Pertuni melakukan nota kesepahaman (MOU) pelatihan budidaya dan pengembangan bahan baku yang ditandatangani oleh Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Irwan Hidayat dan Direktur Venancia Sri Indrijati bersama Ketua Pembina Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Mohamad Hasan dan Ketua Umum Pertuni Aria Indrawati bertempat di Sekretariat PB PASI Stadion Madya Senayan Jakarta, Kamis, (8/1/15),

Direktur Utama, Sido Muncul, Irwan Hidayat, menungkapkan jika pihaknya berharap memberikan pelatihan agar para tunanetra bisa mandiri.

“kemitraan yang dilakukan Sido Muncul dan Pertuni diharapkan bisa melatih dan membantu mereka untuk mandiri, seperti di negara-negara lain tunanetra mampu bertani dan menghasilkan uang untuk membantu kehidupan mereka”, ungkapnya.

Kerjasama Sido Muncul dan Pertuni yang diprakarsai oleh Ketua Pembina Pertuni, Bob Hasan. Rencananya pelaksanaan pelatihan akan dilaksanakan di pabrik Sido Muncul yang berlokasi di Jl. Soekarno – Hatta KM 28 Bergas, Klepu, Semarang. Namun untuk selanjutnya para anggota Pertuni yang sebagian besar berasal dari pedesaan ini akan melakukan budidaya penanaman tanaman obat di lahannya sendiri dengan pendampingan dari Sido Muncul dimana hasilnya nanti dapat dijual ke Sido Muncul yang dikoordinasi dari Pertuni.

Berdasarkan estimasi dari Kementerian Kesehatan RI, angka kebutaan di Indonesia 1,5% dari jumlah penduduk yang berarti ada ± 3,6 juta tunanetra di Indonesia. Sedangkan Pertuni yang didirikan sejak 26 Januari 1966 sampai saat ini jumlah anggotanya berjumlah 50.000 orang, sehingga Pertuni berjuang untuk 3,6 juta tunanetra di Indonesia ini agar mendapatkan kesetaraan, karena seringnya para penyandang tuna netra mengalami diskriminasi atau hambatan dalam kehidupan bermasyarakat untuk mengakses sarana dan layanan publik seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, akses transportasi umum, dan banyak hal lainnya.

Dalam kesepakatan ini juga akan diberikan penjelasan dan pelatihan mulai dari budidaya tanaman obat, pemilihan bibit sampai penanaman, pemeliharaan, masa panen, pasca panen, dan pemasokan hasil panen ke Sido Muncul. Tanaman yang di budidayakan akan disesuaikan dengan kondisi daerah tempat tinggal anggota Pertuni dan kebutuhan bahan baku Sido Muncul. Selain itu, untuk budi daya tanaman obat bagi para anggota Pertuni, akan diberikan tanaman yang mudah diketahui dari bau tanaman itu sendiri seperti kencur, jahe, sereh, kayu manis, dan lain-lain.

Kerjasama ini juga merupakan bentuk kepedulian Sido Muncul dengan masyarakat sekitar agar tunanetra diberikan kesempatan yang sama seperti masyarakat pada umumnya, seperti halnya program pemberdayaan masyarakat Desa Rempah yang telah dilaksanakan Sido Muncul bagi masyarakat desa untuk memanfaatkan dan memaksimalkan lahan yang sudah ada, yaitu lahan kosong, lahan yang tidak produktif ataupun lahan produktif yang memungkinkan tumpang sari dengan membudidayakan tanaman obat dengan pendampingan Sido Muncul. Baik dari pemilihan bibit tanaman obat yang mempunyai nilai ekonomi, pembinaan, penyuluhan, saat tanam, pemeliharaan sampai panen dan pasca panen.

Saat ini Sido Muncul telah melaksanakan program pemberdayaan masyarakat dengan Pencanangan Desa Rempah di Desa Gondoriyo, Bergas Semarang dan Gladagsari, Kaligentong, Ampel, Boyolali. Diharapkan selanjutnya akan terbentuk desa-desa rempah lainnya. Sehingga semakin berkembangnya tanaman jamu menjadikan jamu sebagai alternatif untuk menjaga kesehatan masyarakat Indonesia dan jamu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.