Mangrove Energy, PLN JMK dan KeSEMaT Tanam 10.000 Mangrove di Mangunharjo

Para peserta Mangrove Energy berfoto bersama (Foto: KeSEMaT)
Para peserta Mangrove Energy berfoto bersama (Foto: KeSEMaT)

Mangunharjo, SEMARANGDAILY**KeSEMaT dan PT. PLN Jasa Manajemen Konstruksi (JMK) menyelenggarakan program MANGROVENERGY (ME): PLN Mangrovekan Negeri di Mangkang Wetan dan Mangunharjo, Senin, (26/1/15). Tujuan kegiatan ini untuk memberikan informasi mengenai berbagai industri mangrove kreatif, sekaligus menyelamatkan ekosistem mangrove di pesisir, dengan melakukan penanaman 10.000 bibit mangrove jenis Rhizophora.

Kegiatan diikuti oleh kurang lebih dua ratus orang peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, LSM, dinas pemerintahan, kelompok tani, warga Mangkang Wetan, dan kelompok kerja mangrove Jawa Tengah dan Kota Semarang.

Presiden KeSEMaT, Dinuarca Endra W, menjelaskan bahwa KesEMAT hadir dalam rangka penyelematan hutan mangrove di indonesia.

“Afiliasi mangrove KeSEMaT dalam rangka penyelamatan hutan mangrove di Indonesia,” katanya.

Degan tujuan itu, maka KeSEMaT mendirikan komunitas relawan mangrove KeMANGTEER, perusahaan mangrove CV. KeMANGI dan yayasan mangrove IKAMaT.

PLN JMK yang menerangkan mengenai tujuan pengalokasian dana CSR PLN untuk program rehabilitasi mangrove di Mangkang Wetan. Hasil dari program ME diharapkan dapat membantu warga Semarang dalam menyelamatkan pesisirnya, sekaligus menghijaukan pantai Mangkang Wetan. Dalam kesempatan ini, PLN JMK juga membuka ME secara resmi.

Hadir dalam kegiatan ini rentetatn kegiatan seperti tarian-sambutan khas Semarangan dan fashion show batik mangrove, dengan tema Dahayu Warna Adhikari oleh Batik Bakau, salah satu industri mangrove kreatif. Batik Bakau menampilkan empat buah koleksi terbarunya, tetap dengan ciri khasnya warna coklat, sebagai warna batik asli dari serasah propagul mangrove kering yang jatuh ke tanah.

Selesai pementasan Batik Bakau, CSR PLN memberikan bantuan berupa 10.000 bibit mangrove kepada kelompok tani mangrove Mangkang Wetan, dengan harapan agar dapat membantu program rehabilitasi mangrove yang saat ini, memang sedang marak dilakukan di sana.

Selesai penanaman 10.000 bibit Rhizophora, untuk program monitoring dan evaluasi bibit mangrove yang sudah ditanam akan dilanjutkan oleh warga dan kelompok tani setempat, dengan pengawasan langsung dari KeSEMaT.

Modal Masyarakat

Joe Lee, seorang professor dari Australian Rivers Institute and School of Environment, Griffith University, menyampaikan potensi besar atas pengelolaan mangrove. Ia menyampaikan keberadaan mangrove yang dapat memajukan desa.

“Selain sebagai penahan ombak, keberadaaan mangrove ternyata juga dapat memajukan desa dengan budidaya ikan ataupun kepiting,”, katanya.

Besarnya fungsi hutan mangrove, lanjutnya, tidak dapat maksimal dan berkelanjutan jika praktik manajemen yang ada tidak berubah. Banyak faktor yang mengancam masa depan hutan bakau. Oleh karenanya, peran seluruh pihak termasuk pemerintah sangat signifikan dan diperlukan.

“Sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk pelestarian hutan bakau di antaranya penghentian perusakan mangrove, konversi tambak udang tidak produktif ke hutan bakau, penanaman kembali hutan bakau, serta upaya pemberdayaan dan pelibatan masyarakat dalam konservasi dan pengelolaan hutan bakau,” tandasnya

Indonesia merupakan negara pensuplai hutan mangrove terbesar di dunia. Seperti diketahui, presentasinya mencapai 30 persen.