Albicia Hamzah : Dorong Hutan Mangrove Sebagai Wisata Bahari Unggulan Semarang

Albicia mengungkapkan bahwa Hutan Mangrove merupakan salah satu modal yang bisa didorong dalam wisata bahari yang ada di Kota Semarang (Foto: Surakarta Daily)
Albicia mengungkapkan bahwa Hutan Mangrove merupakan salah satu modal yang bisa didorong dalam wisata bahari yang ada di Kota Semarang (Foto: Surakarta Daily)

Kota Semarang, SEMARANGDAILY**Pengembangan dan pembangunan di Kabupaten Semarang sudah tidak bisa dipungkiri lagi, ikon kota perdagangan dan wisata belanja sangat melekat dengan Kota Semarang, namun wisata bahari tidak boleh dipinggirkan. Kota Semarang memiliki potensi Kembangkan Wisata Bahari sebagai komoditas daerah. Hal ini diungkapkan oleh Praktisi Promosi Daerah, Albicia Hamzah, Senin, (5/1/15)

“Konsentrasi tentang pariwisata Bahari (pantai/laut—red) diharapkan jangan sampai terlupakan bahkan terpinggirkan, karena Indonesia sebagai negara kepulauan berpotensi besar untuk mengembangkan potensi wisata bahari”, katanya.

Albicia mengatakan keragaman hayati dan kebhinekaan sosial budaya memiliki keunikan dan daya tarik bagi wisatawan nusantara dan mancanegara. Ia juga mengungkapkan pengembangan potensi wisata bahari memiliki arti strategis di berbagai sektor. Oleh karena itu, pengembangan wisata bahari merupakan sebuah keniscayaan

Ia mengungkapkan agar pemerintah kota semarang mulai fokus mengidentifikasi waisata bahari yang ada di Semarang.

“Pemerintah Kota Semarang haruslah mulai fokus untuk mengidentifikasi “fungsi unggulan wisata bahari”, tambahnya.

Seperti diketahui, karena banyak jenis tentang wisata bahari, diantaranya wisata bisnis (business tourism), wisata pantai (seaside tourism), wisata budaya (cultural tourism), wisata pemancingan (fishing tourism), wisata pesiar (cruise tourism), wisata olahraga (sport tourism), dan lain–lain. Jika Pemerintah telah memfokuskan peran dan fungsi Wisata Bahari yang ada, maka akan lebih optimal dan fokus dalam konsep pengelolaannya.

Ditanya jenis wisata bahari apa yang perlu didorong, Albicia mengungkapkan bahwa Hutan Mangrove merupakan salah satu modal yang bisa didorong dalam wisata bahari yang ada di Kota Semarang. Hal ini sesua dengan kondisi Laut yang ada di Kota semarang.

Fokus pengeloaan dan pengembangan ini penting dilakukan agar lebih memperkuat Brand Image Pariwisata Laut yang ada di semarang, selain di dukung dengan citra Indonesia sebagai surga bagi pengembangan potensi wisata bahari, maka dengan potensi laut yang ada di Kota Semarang, tidak ada alasan semarang untuk tidak ambil bagian dalam citra Indonesia guna mengoptimalkan potensi bahari yang ada.

Hutan Mangove Miliki Modal

Joe Lee, seorang profesor dari Australian Rivers Institute and School of Environment, Griffith University, menyampaikan potensi besar atas pengelolaan hutan mangrove. Lee mengunjungi hutan bakau dan tanaman mangrove November lalu di Semarang. Ia meninjau langsung kondisi hutan mangrove yang oleh masyarakat lokal dikembangkan menjadi wisata bahari.

Ia mengatakan, keberadaan mangrove dapat memajukan desa.

“Selain sebagai penahan ombak, keberadaaan mangrove ternyata juga dapat memajukan desa dengan budidaya ikan ataupun kepiting,” katanya.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara pensuplai hutan mangrove terbesar di dunia. Besarnya fungsi hutan mangrove, tidak dapat maksimal dan berkelanjutan jika praktik manajemen yang ada tidak berubah. Banyak faktor yang mengancam masa depan hutan bakau. Oleh karenanya, peran seluruh pihak, termasuk pemerintah, sangat signifikan dan diperlukan.

“Sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk pelestarian hutan bakau di antaranya penghentian perusakan mangrove, konversi tambak udang tidak produktif ke hutan bakau, penanaman kembali hutan bakau, serta upaya pemberdayaan dan pelibatan masyarakat dalam konservasi dan pengelolaan hutan bakau,” tandasnya

Indonesia merupakan Negara Kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau. Dari 495 kota/kabupaten di Indonesia, 440 di antaranya berwilayah pesisir. Wilayah pesisir dan laut sangat kaya sumberdaya alam, tetapi sangat rentan terhadap perubahan. Menurut Lee, kawasan pesisir merupakan tempat berbagai kegiatan yang saling tumpang tindih.