Urgensi Pelaksanaan Industri Berbasis Blue Economy di Semarang

Urgensi Pelaksanaan Industri Berbasis Blue Economy di Semarang (Foto: Info Akuakultur Blogspot)
Urgensi Pelaksanaan Industri Berbasis Blue Economy di Semarang (Foto: Info Akuakultur Blogspot)

Tembalang, SEMARANGDAILY**Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi besar dalam bidang kelautan dan perikanan. Dengan demikian optimalisasi pembangunan industri berbasi blue economy sangatlah penting. Semarang, sebagai daerah yang langsung bersentuhan dengan laut, harus mengoptimalisasi aspek ini. Hal ini diungkapkan oleh peneliti dan pemerhati maritim, Farhan Hakim, Kamis, (19/12/14).

Farhan mengungkapkan bahwa fokus dan perhatian kebijakan pemerintah kota Semarang terhadap sektor kelautan dan perikanan belum optimal. Hal ini terlihat dimana model pembangunan yang ada di semarang masih berorientasi pada daratan (Land Based Development), belum berorientasi pada sektor kelautan (Ocean Based Development).

Selain itu, kebijakan masih mengarah pada sektor pabrik atau industri kawasan. Gambaran ini menunjukkan bahwa pemerintah masih perlu memberikan perhatian khusus terhadap sektor kelautan dan perikanan.

“Semarang lebih pada pabrik atau kawasan industri bukan ke perikanan. Hal ini karena belum ada inisiatif baik dari pemerintah untuk menerapkan blue economy secara maksimal,” katanya.

Farhan menjelaskan, jika industri berbasis blue economy ini dilaksanakan, ada beberapa keuntungan yang dapat diambil.

“Ada beberapa keuntungan yang bisa diambil, diantaranya untuk input pemerintah khususnya pemerintah kota semarang. Dari sektor pendapatan per kapita dan akan menaikkan taraf kehidupan stakeholder perikanan khususnya pelaku perikanan dari sektor lingkungan daerah semarang akan lebih terjaga”, tambahnya.

Konsep ini bisa menawarkan platform yang luas dari ide-ide inovatif yang telah diimplementasikan di dunia. Ide ini juga dapat menginspirasi kaum muda semarang dan mendorong untuk beriwarusaha di setiap sektor bisnis kelautan dan perikanan melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara berkelanjutan.

Seperti diketahui, bahwa industri berbasis blue economy adalah segala proses perekonomian yang merujuk kepada laut. Hal ini terdiri dari semua aspek dari penangkapan, pengolahan, budidaya, pariwisata, niaga, sampai aspek pelestarian sumber daya alam kelautan tersebut.

Sejak diperkenalkannya konsep “Blue Economy” oleh Gunter Pauli melalui bukunya The Blue Economy : 10 years, 100 innovations, and 100 million jobs (2010). Buku ini mengilhami sebuah konsep yang seolah mengajak masyarakat global untuk merubah paradigma bagaimana mengelola sumberdaya alam secara optimal, arif dan berkelanjutan. Gunter Pauli melalui konsep Blue Economy mencoba menawarkan solusi untuk menjawab tantangan bahwa sistem ekonomi dunia cenderung eksploitatif dan secara nyata telah merusak lingkungan. Ekspolitasi terhadap SDA ini telah melebihi kapasitas atau daya dukung yang ada.

Fokus Dunia

Pada tahun 2014 ini 21 negara Asia Pasifik telah menyepakati Blue Economy sebagai fokus utama kerja sama kemitraan antarnegara anggota APEC. Hal itu tertuang dalam Deklarasi Xianmen yang disahkan pada Pertemuan Tingkat Menteri Kelautan APEC 2014.

Tidak hanya itu, ada tiga bidang kerja sama lainnya yang menjadi prioritas yakni, konservasi ekosistem laut dan pesisir serta ketahanan terhadap bencana alam. Kedua, peran laut terhadap keamanan pangan dan perdagangan yang berhubungan dengan pangan, serta ketiga adalah terkait ilmu kelautan, teknologi dan inovasi.

Seiring dengan tuntutan modernisasi dan pandangan dunia internasional, Farhan mengungkapkan bahwa perguruan tinggi sejatinya memilik peran yang startegis untuk membangun dan menggerakan konsep ini hadir dalam pembangunan industri yang ada di Semarang.

“Perguruan tinggi harus menjadi institusi yang memberikan pemahaman dan pengetahuan blue economy kepada masyarakat, dan khususnya para stakeholders,” pungkasnya.

Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut berperan aktif, bukan pasif terhadap diseminasi ide blue economy ini.