Tantangan dan Strategi Komoditas Kedelai di Jawa Tengah

???
Perkebunan Kedelai (Foto : Kabar-Agro Blogspot).

Kota Semarang, SEMARANG DAILY**Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peningkatan produksi kedelai, agar kebutuhan kedelai yang menjadi makanan masyarakat sehari-hari dapat terpenuhi. Untuk itu, 16 kabupaten telah dipersiapkan mengoptimalkan produksi kedelai.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo,  mengungkapkan kebutuhan pangan di provinsi ini relatif tercukupi dari produksi petani lokal. Dia menunjuk contoh produksi padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu, gula, daging, telur yang sudah dapat memenuhi kebutuhan rakyat. Namun, untuk produk kedelai masih kurang. Pada 2013 lalu, dari kebutuhan 245.282 ton, estimasi produksi baru 208.706 ton.

“Buktikan Jawa Tengah bisa memenuhi kedelai sendiri,” tegas Ganjar.

Kendati begitu,  produk pertanian lainnya juga terus digenjot. Sehingga dapat memberikan kontribusi pangan nasional. Apalagi Jawa Tengah ditugasi negara menjadi salah satu provinsi yang dapat menyuplai pangan nasional.

“Orang lapar akan bisa berbuat apa pun untuk bertahan. Karenanya, wareg (baca : kenyang—red ) menjadi tatanan atau kebutuhan badaniah yang harus terpenuhi,” katanya.

Berbagai upaya pun terus dilakukan. Mulai dari intensifikasi, modernisasi, mekanisasi, hingga penanganan pascapanen. Penggunaan peralatan modern, seperti traktor, mesin penanam padi, mesin pemanen padi, dan sebagainya dapat menekan biaya produksi, serta mengatasi persoalan semakin berkurangnya jumlah petani di provinsi ini. Pengaturan pola tanam harus diterapkan sehingga tidak terjadi penumpukan produksi pada masa tertentu atau panen raya yang dapat mengakibatkan pada anjloknya harga. Penanganan pasca panen pun mutlak diperlukan, salah satunya melalui sistem tunda jual dengan memanfaatkan resi gudang.

Komoditas Strategis

Komoditas kedelai di Indonesia memiliki nilai yang sangat strategis karena tingginya kebutuhan masih belum diimbangi dengan produksi kedelai di dalam negeri.

“Kita masih banyak impornya daripada mengkonsumsi kedelai kita, karena memang produksinya masih kurang. Karena itu, petani yang menanam kedelai harus mendapat dukungan supaya impornya juga terukur. Jika impor tidak terukur, tentu petani enggan menanam kedelai,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko.

Ia mengatakan kualitas kedelai lokal baik varietas grobogan, malika maupun anjasmara lebih bagus daripada kedelai impor. Kandungan proteinnya lebih tinggi, lebih fresh dan di Purworejo diolah dengan sistim pertanian organik.

“Kandungan protein kedelai impor hanya 34 persen. Sementara kedelai lokal antara 39 sampai 41 persen. Selain itu kualitas kedelai impor pasti turun karena harus melalui proses penyimpanan dalam jangka waktu lama. Berbeda dengan kedelai lokal yang lebih fresh,” ungkap Heru.

Melihat keunggulan tersebut, Heru meminta kepada seluruh stakeholder membantu menggencarkan promosi kedelai lokal. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri sudah berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi kedelai. Paling tidak dalam jangka pendek bisa meningkat separuh dari produksi saat ini.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah,  Suryo Banendro, mengatakan produksi kedelai Jawa Tengah saat ini 129 ribu ton. Untuk meningkatkan kapasitas produksi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperluas areal tanam sebesar 39 ribu hektar. Luasan tersebut masih ditambah dengan pemanfaatan lahan Perum Perhutani 2 ribu hektar. Selain kedelai, lahan Perum Perhutani juga dikhususkan untuk menanam jagung dan padi gogo.

Sementara itu, Direktur Pasca Panen Kementerian Pertanian RI, Pending Dadih Permana, menuturkan untuk keperluan perluasan areal tanam kedelai di Jawa Tengah, Kementerian Pertanian sudah mengalokasikan dana stimulan. Dana tersebut diharapkan dapat mendorong dan memberdayakan petani untuk mengembangkan kedelai. Khusus di Pituruh, lanjutnya, punya potensi memroduksi kedelai sebanyak 5 ribu ton.

Aplikasi Teknologi dan Riset

Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmiko, memanen kedelai (Foto : Pemprov Jateng)
Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmiko, memanen kedelai (Foto : Pemprov Jateng)

Ganjar berharap ada pola IT yang bisa memetakan hari ini tanaman ini ditanam di mana. Misalnya padi ditanam dimana, cabai, kedelai, dan lainnya. Sehingga bisa diprediksi kapan panennya, kapan suplai produk meningkat.

Selanjutnya dapat dihitung dan dicatat siapa membutuhkan produk cabai, siapa yang menyuplai. Dengan begitu produk yang berlebih dapat disalurkan ke daerah yang membutuhkan dengan harga yang tinggi, tidak lagi anjlok,” katan Ganjar.

Tidak hanya itu, penganekaragaman pangan pun dilakukan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada beras sebagai makanan pokok, maupun gandum yang pemenuhannya masih mengandalkan impor. Dia menunjuk contoh beras analog yang bentuknya persis beras, namun terbuat dari jagung dan singkong sebagai pengganti beras. Gandum atau terigu sebagai bahan baku membuat roti, dapat digantikan dengan tepung mokav.

Kekurangan air yang sering terjadi saat kemarau, diatasi dengan memperbanyak penampungan air. Baik embung, bendungan, maupun waduk. Selain itu, penghijauan terus digalakkan agar air tanah dapat tetap terjaga. Di sisi lain, penataan ruang juga harus benar-benar diperhatikan untuk menghindari pengurangan lahan produktif. Dalam hal ini, diperlukan komitmen kuat dari pemerintah kabupaten/kota.

Selain itu, ada beberapa aspek yang patut diperhatikan, yaitu distribusi. Baru-baru ini Universitas Diponegoro, berhasil melahirkan analisa riset dalam kajian distribusi. Dalam kajian judul Agricultural Product Distribution Center (APDC) : Sebagai Upaya Peningkatan Perekonomian Petani Melalui Pengoptimalan Distribusi Produk Pertanian (Studi Kasus Provinsi Jawa Tengah)(Faiz Balya Marwan, dkk, 2014).

 Dalama kajian ini mengungkapkan potensi pertanian di Jawa Tengah secara umum masih belum optimal dan kalah dibandingkan dengan komoditas lainnya.

Menyongsong adanya Pasar Bebas AEC 2015, sebenarnya potensi ekonomi melalui ekspor produk pertanian Jateng sangat besar tapi sampai saat ini belum dimaksimalkan. Dalam satu dekade terakhir, ekspor produk pertanian Jateng masih kalah jauh dibanding komoditas tekstil dan kayu olahan.

“Salah satu penyebab kurangnya nilai ekspor Jateng adalah ketidaktahuan petani terhadap regulasi dan proses ekspor itu sendiri. Sedangkan kendali ekspor berada penuh di tangan eksportir. Di sisi lain, data di lapangan yang kami analisis menunjukkan bahwa terdapat perolehan keuntungan yang timpang. Jadi ada dua masalah kunci dalam penelitian kami, nilai ekspor produk pertanian Jateng rendah dan selisih keuntungan yang jauh antara petani dan eksportir,” ujar Faiz Balya Marwan.

Dengan memaksimalkan ekspor produk hasil pertanian dan meminimalisir selisih harga, maka perekonomian dapat meningkat yang akan berimbas pada kesejahteraan petani.

Gagasan alternatif untuk menangani masalah tersebut adalah diperlukan adanya sebuah lembaga khusus sebagai fasilitator dalam pengembangan potensi pertanian yang ada yang mereka sebut APDC. APDC dapat mempertemukan kepentingan pemerintah daerah, investor, petani, dan tenaga ahli.