Pasca Renovasi, Pasar Bulu Usung Ikon Baru Pariwisata Semarang

Menteri Perdagangan RI, Rahmat Gobel saat meresmikan Pasar Bulu. Pasar Bulu Semarang, Usung Ikon Baru Pariwisata Semarang (Foto: Pemkot Semarang).
Menteri Perdagangan RI, Rahmat Gobel saat meresmikan Pasar Bulu. Pasar Bulu Semarang, Usung Ikon Baru Pariwisata Semarang (Foto: Pemkot Semarang).

Kota Semarang, SEMARANGDAILY**Setelah melalui proses pembangunan yang dimulai tahun 2012, Pasar Bulu diresmikan oleh Menperindag RI, Rahmat Gobel. Turut hadir dalam kegiatan peresmian ini adalah Wagub Jateng, Heru Sudjatmiko, jajaran Kemenperindag, Selasa, (30/12/2014).

Terkait dengan pembangunan Pasar Bulu, Walikota menyampaikan bahwa konsep renovasi pasar Bulu diarahkan menjadi pasar tradisional modern. Hal ini dilakukan sebagai upaya meningkatan daya tampung Pasar Bulu yang selama ini dianggap tidak memadai sehingga banyak pedagang meluber ke jalan-jalan dan lorong-lorong pasar.

“Setelah melalui pertimbangan dan kajian bersama antara tim teknis dan berbagai pihak, selama 3 tahapan sejak tahun 2012 pembangunan pasar Bulu mencapai total dana sebesar 67,8 M. Anggaran ini terdiri dari APBN 9,5 M, APBD Provinsi Jawa Tengah 9.5M, dan APBD Kota Semarang sebesar 58,8 M,” ungkap Walikota.

Pasar ini terdiri dari tiga lantai yakni lantai satu untuk pedagang sembako dan pakaian, lantai dua untuk pedagang daging, ayam potong, ikan basah dan roti serta lantai tiga untuk pedagang grosir gerabah.

Renovasi ini diharapka menjadikan Pasar Bulu sebagai ikon wisata baru. Lebih lanjut, Walikota berharap agar pasar tradicional modern Bulu ini bisa menjadi pilot project atau percontohan pengembangan pasar tradisional modern di Jawa Tengah.

“Renovasi ini diharapkan dapat menjadikan Pasar Bulu sebagai salah satu ikon wisata belanja baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang mengingat letaknya yang strategis di pusat kota dengan dikelilingi Tugu Muda, gedung Lawang Sewu, Museum Mandala Bhakti, pusat oleh-oleh Pandanaran,” ungkapnya.

Sementara, Menperindag Rachmat Gobel memberikan apresiasi atas komitmen dan inisiatif Pemprov dan Pemkot dalam pengembangan pasar tradisional. Kedepan, lanjutnya, pemerintah pusat berencana mengembangkan 5.000 pasar yang akan dikembangkan tidak hanya sebagai pusat penyediaan bahan pokok juga sebagai penjaga stabilitas harga.

“Dengan lokasi yang strategis, pasar ini diharapkan juga dapat menjadi tempat promosi produk-produk lokal. Jangan jual produk impor, apalagi yang illegal dan tidak berStandar Nasional Industri. Upaya ini tentunya betul-betul dapat mengangkat hasil produk kita hingga kancah internasional,”

Nilai historis pasar Bulu yang sudah eksis berdiri sejak 72 tahun lalu, lanjut Rahmat Gobel, menjadi kebanggaan yang menjadi nilai positif sehingga bisa dikembangkan menjadi sentra produk lokal dan hasil bumi

Pada kesempatan tersebut, diserahkan pula bantuan alat kemasan kepada 7 UKM dari 7 Kabupaten/Kota Se-Jawa Tengah serta penyerahan secara simbolis 12 kunci kios kepada para pedagang pasar Bulu. Usai meninjau Pasar, rombongan Menperindag, Wagub Jateng, Walikota Semarang, serta Muspida melanjutkan kunjungan pada pelaksanaan pasar murah di Kelurahan Panggung Kidul, Kecamatan Semarang Utara.

Dorong Hadapi MEA 2015

???
Walikota Semarang, Hendrar Prihadi Mendorong Pasar Hadapi MEA 2015. (Foto : Suara Nusantara)

Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, mendukung pasar tradisional untuk hadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Hal ini Ia sampaikan melalu akun twitternya, @hendrarprihadi, saat menjawab berbagai pertanyaan masyaraka di media sosial, Oktober lalu.

“Perlu diketahui bahwa saya justru terus berusaha agar pasar tradisional tidak ditinggalkan oleh masyarakat modern. Kita perlu sadar kalau tuntutan masyarakat modern tidak bisa dicegah, apalagi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan dibuka akhir 2015,” ungkapnya.

Ia menyampaikan bahwa MEA akhir 2015 akan hadir. Sehingga mau tidak mau semua pelaku usah harus siap. Ia juga mengungkapkan para pelaku usaha lokal harus bertransformasi

“kita harus siap untuk menghadapi serbuan barang impor, karena itu pelaku usaha lokal harus bertansformasi,” katanya.

Pelaksanaan rehab pasar-pasar tradisional Semarang , supaya masyarakat lebih nyaman dalam berbelanja dan tetap eksis dalam persaingan dengan pasar modern. Ia mencontohkan bahwa masyarakat bisa belajar dari penataan pedagang kaki lima di Simpang Lima yang sekarang jadi Shelter Pujasera, agar tidak kalah dengan restoran.