Munir Dan Hak Asasi Manusia

Munir dan Hak Asasi Manusia (Foto: Jendoel Hadi Santosa)
Munir dan Hak Asasi Manusia (Foto: Jendoel Hadi Santosa)

Keadaan hati yang paling tentram adalah ketika ia tunduk pada kebenaran (Murtadha Muthahhari)

Bukan soal rambut keriting yang menggimbal. Buka pula tentang mata yang melotot tajam. Juga bukan kumis tebal yang tumbuh lebat di atas bibir. Tapi, Munir Said Thalib adalah soal perjuangan, soal prinsip kemanusiaan dan soal suara yang dibungkam dalam hingar bingar.

Sepuluh tahun lalu, suara yang hampir saja meledak-ledak itu mendadak hilang entah kemana. Kejadiannya sama seperti sebuah petasan yang sudah dinyalakan, tetapi karena suatu hal petasan itu tak kunjung membahana. Seluruh televisi nasional mengabarkan, Munir, sang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), meninggal dunia. Munir adalah sumbu berapi yang membukakan mata kita soal HAM dan dibunuh agar tak sampai ‘bergumuruh’.

Ekspresi menyambut informasi yang beredar itu pun beragam. Bagi pelaku HAM, tentu kabar ini adalah kabar baik yang mereka tunggu-tunggu. Rasa was-was yang menghantui tidur dan kebangunan, mendadak hilang. Udara kebebasan terhirup kembali dengan tanpa konsekuensi moral.

Kawan-kawan cak Munir merespon kabar meninggal tersebut dengan aneka macam ungkapan kesedihan. Bunga-bunga ditaburkan ke jalan sebagai bentuk bahwa HAM telah dikubur mati di Bumi Pertiwi. Lilin-lilin kecil dinyalakan bersamaan sebagai pesan bahwa terang kecil yang banyak itu tak cukup jua menarik nurani. Emosi dan rasa kecewa menyelimuti apa pun bentuk perayaannya.

Diantara keduanya, tentu ada pula yang berperan sebagai masyarakat biasa, yang tak terlibat dalam pertarungan itu. Mereka memandang kematian Munir sebagai sebuah bentuk keadilan yang telah hilang. HAM tidak berarti apa-apa tanpa sebuah keseriusan. Yang pasti, masyarakat mencatat, bahwa perjuangan itu nyatanya selalu bertemu dengan sebuah resiko, dan hanya orang-orang beranilah yang siap menghadapi resiko.

Teka-teki Munir

Sejerah, kata Karl Marx, akan dikenal dalam dua hal. Yang pertama adalah sebagai tragedi dan kedua adalah sebagai lelucon. Kasus Munir berada dalam dua ruang sekaligus. Pembunuhannya adalah sebuah tragedi, sedangkan pengungkapan akan pelakunya adalah sebuah lelucon.

Dalam ruang tragedi. Kematian Munir tidak sebatas kematian yang biasa yang tanpa jejak-jejak. Akan tetapi, kematian Munir adalah ke luar biasaan, dikarenakan terjadi di era Reformasi yang Demokratis. Era dimana kebebasan berpendapat adalah cerminan utamanya dan penegakan akan hukum adalah tiangnya.

Demokrasi bukanlah sekedar prinsip pemerintahan dimana rakyat berdaulat. Demokrasi juga pada intinya, kesiapan untuk menerima kejujuran dalam berbagai bentuk. Demokrasi mengakumulasi kebebasan berpendapat dalam satu rumusan legal.

Bangunan demokrasi tidak bisa berdiri tanpa hukum sebagai pilar-pilar yang menguatkannya. Kebebasan tidak jarang mengganggu kebebasan yang lain. Tumpang tindih ini kemudian diatur oleh hukum agar menscheen-rechte (HAM) tersebut tidak menimbulkan kerugian bagi satu dengan lainnya. Hukum hadir karena ada satu hal yang dilarang oleh demokrasi, yaitu melawan argumentasi dengan arsen oksida(si) atau senyawa arsenic (baca: pembunuhan).

Sudah sepuluh kali 365 hari Munir meninggalkan kita dan segala mimpi-mimpinya tentang Indonesia. Persidangan untuk membuktikan kematiaannya pun telah dilakukan. Pollycarpus sebagai pelaku utama di lapangan telah dijatuhi delapan tahun hukuman (kini telah dibebaskan). Yang menjadi soal, dalang atau siapa BUNG BESAR yang ada dibalik skenario ini sampai saat ini tak kunjung terungkap.

Jean-Paul Sartre membuat sebuah teori tentang ‘dasar’ dan ‘gambar’. Dalam teori itu dijelaskan bahwa ‘dasar’ adalah tampilan-tampilan yang berada di sekitar ‘gambar’. Dalam suatu keadaan dimana ‘gambar’ belum terungkap, ‘dasar’ bisa menjadi ‘gambar’. Pada akhirnya, ketika ‘dasar’ yang semula kita pikir ‘gambar’ itu terungkap bukan ‘gambar’ yang kita cari, maka ‘gambar’ tersebut berubah menjadi ‘dasar’ kembali.

Contoh : Sebuah foto yang menampilkan begitu banyak orang. Kita kemudian hendak mencari diri kita dalam foto tersebut. Wajah teman-teman kita yang kita perhatikan satu-satu tersebut adalah ‘dasar’ yang menjadi ‘gambar’. Hingga kemudian kita menemukan wajah kita sebagai ‘gambar’ sesungguhnya dan wajah teman-teman kita kembali pada posisinya sebagai ‘dasar’.

Dalam kasus peradilan Munir, Pollycarpus adalah ‘dasar’ yang pada awalnya kita jadikan sebagai ‘gambar’. Peradilan kemudian berjalan dan menyebutkan bahwa Pollycarpus adalah pelaku lapangan. Pollycarpus yang sebelumnya kita pikir adalah ‘gambar’ otomatis berubah menjadi ‘dasar’, karena ‘gambar’ atau target yang perlu dicari dari kematian Munir adalah pembuat skenario.

Secara logika, dengan menggunakan hubungan kausalitas tentunya penyebab dari akibat itu seharusnya dapatlah terungkap. Apalagi, akibat itu telah mengakui dirinya dan dijatuhi hukuman. Kemungkinan diketahuinya pun sangat besar karena hukum mengandung Quid Facti atau mengembalikan fakta-fakta itu pada kekuatakan hubungan. Tetapi lagi-lagi, kita rasanya perlu mencuri ungkapan Nietzsche jika “kebenaran adalah menurut siapa yang bicara”, dalam hal ini hakim sebagai penentu persidangan.

Perjuangan

Dari Sabang sampa Merauke, dari 2004 hingga 2014, perayaan memperingati lahirnya Munir dilaksanakan. Bentuk dan judul acaranya pun bermacam-macam. Ada yang mengenang Munir dengan lagu. Ada yang mengkhayati Munir dalam lukisan. Ada yang mencoba menghidupkan kembali Munir dengan diskusi. Ada yang menggelorakan isi hati Munir dengan pembacaan puisi.

Mereka bergerak bukan tanpa tujuan. Mereka berkumpul dan menenteng tinggi foto Munir untuk memperjuangkan satu hal, yaitu mereka berusaha membuka mata negara yang buta akan apa yang menjadi kegelisahan masyarakatnya. Kegelisahan itu adalah berlarutnya pengungkapan kematian Munir yang sudah tinggal beberapa jarak saja di depan mata.

Dalam kaidah ilmu pengetahuan, salah itu ada hal yang lumrah namun kebohongan adalah suatu kejahatan. Negara tidaklah melakukan kesalahan. Negara telah melakukan hal yang benar dengan menghukum Pollycarpus. Namun, jika diteruskan terbengkalai (pengakuan Hakim Citut Sutiarso bahwa Pollycarpus menerima telepon dari agen intelejen sebelum pembunuhan Munir), maka negara telah berbohong dengan tidak menindaklanjuti pencarian Don Pleger atau aktor intelektual di belakang tindakan Pollycarpus.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi teramat panjang. Dalam waktu yang panjang itu, tidak ada satu namapun yang disebutkan sebagai titik terang dari tujuan pembunuhan Munir. Ini adalah sebuah lelucon dalam sejarah penegakan hukum negara demokrasi, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagaimanapun sesuatu yang benar tetaplah harus kita suarakan. Apa yang dialami oleh Munir adalah pelajaran berharga tentang sebuah tekad dan keyakinan dalam memperjuangkan prinsip. Munir tidak hanya mengorbankan waktunya, keluarga tetapi juga hidupnya demi apa yang dia yakini benar. Itu adalah hal yang perlu kita contoh sebagai modal kekuatan batin kita untuk terus menelusuri keadilan terhadap Munir.

Menutup tulisan ini, saya akan menukil apa yang Annie Besant katakan bahwasanya “banyak sekali yang bermimpi tentang kebaikan, tetapi hanya sedikit yang berusaha mewujudkannya. Sedikit juga yang berjuang untuknya. Akan tetapi, lebih sedikit lagi yang rela berkorban untuknya”. Jika memperjuangkan HAM adalah suatu kebaikan, maka yang perlu kita teladani dari Munir adalah, dia tidaklah hanya bermimpi dan berjuang tetapi dia telah mengorbankan dirinya demi kebaikan itu.