Membaca Peta Redenominasi Rupiah

Membaca Peta Redenominasi Rupiah (Foto: Semartistic Blogspot)
Membaca Peta Redenominasi Rupiah (Foto: Semartistic Blogspot)

Wacana kebijakan redenominasi rupiah sepertinya bukan hanya sekedar isapan jempol belaka, setelah dikaji secara terus menerus oleh Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah, kini wacana tersebut kembali bergulir. Bahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Redenominasi pun telah masuk ke dalam program legislasi nasional tahun 2013.

Istilah redenominasi, sederhananya adalah penyederhanaan nilai mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya, berdasarkan RUU Redenominasi yang telah diajukan, nominal rupiah rencananya akan dipangkas tiga digit, artinya nilai Rp 100.000 akan berubah menjadi Rp 100 nilai dan nilai Rp 1.000 berubah jadi Rp 1,-. Di samping itu, Pemerintah juga sudah mencanangkan tahapan pelaksanaan redenominasi rupiah yang dimulai dari tahun 2011 sampai tahun 2020 melalui tahap-tahap masa sosialisasi (2011-2012), masa transisi (2013-2015), masa penarikan peredaran mata uang lama (2016-2018), dan masa pelaksanaan redenominasi (2019-2020). Jadi ketika RUU Redenominasi disahkan menjadi UU, mulai dimunculkan uang baru hasil redenominasi sehingga pada masa transisi akan ada 2 mata uang yang beredar di masyarakat, suatu barang pun nantinya juga akan dilabeli dengan 2 harga, yakni harga sebelum redenominasi dan harga sesudah redenominasi, lalu secara bertahap mata uang Rupiah lama akan dihilangkan pada tahun 2020.

Banyak negara yang telah berhasil menerapkan redenominasi pada mata uangnya, salah satunya adalah Turki, seperti yang tertulis dalam paper “The National Currency Re-Domination Experience in Several Countries: A Comparative Analysis” oleh Duca Ioana, dosen dari Titu Maiorescu University Bucharest, Rumania. Dalam paper tersebut dipaparkan pada 1 Januari 2005, Turki melakukan redenominasi terhadap mata uangnya, yaitu Lira Turki.

Redenominasi dilakukan di awal tahun anggaran dengan tujuan agar semua catatan pembukuan keuangan negara dan perusahaan langsung menggunakan mata uang baru dengan angka nominal yang lebih kecil. Setelah redenominasi, semua mata uang lama dikonversikan ke mata uang baru, mata uang lama Turki adalah Turki Lira (TL), mata uang baru Turki adalah Lira Turki Baru (YTL), Y adalah singkatan dari yeni yang dalam bahasa Turki artinya baru. Turki melakukan redenominasi dengan mengedarkan mata uang TL dan YTL secara simultan selama setahun, setelah setahun mata uang TL ditarik agar warga memiliki waktu mengganti TL ke YTL, kemudian mata uang TL ditarik dan YTL diedarkan ke seluruh masyarakat, untuk menghindari kebingungan pengenalan mata uang baru, YTL dicetak dengan warna dan desain yang serupa dengan TL. Syarat sukses redenominasi Turki, adalah keharusan negara pelaku redenominasi melakukan stabilisasi harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Indonesia dinilai bisa memperoleh beberapa keuntungan dengan memberlakukan redenominasi rupiah, walaupun sampai sejauh ini masih banyak para pengusaha, ekonom dan masyarakat awam yang masih menimbang-nimbang apa keuntungan dan dampak dari kebijakan tersebut. Apabila ditelaah kembali, sejatinya banyak keuntungan yang bisa dirasakan dari penyederhanaan nilai (redenominasi) rupiah, antara lain, bisa melakukan transaksi dengan nilai yang lebih mudah, memudahkan pencatatan laporan keuangan, sekaligus meningkatnya rasa kebanggan terhadap mata uang rupiah. Banyak pihak yang menganggap bahwa tingginya nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS merupakan indikasi masih terbelakangnya perekonomian Indonesia, sejatinya anggapan tersebut tidaklah berlebihan karena memang kredibilitas mata uang Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain, di level Asia Tenggara saja nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS merupakan tertinggi kedua setelah Dong Vietnam. Jika pemerintah melakukan redenominasi, nilai tukar rupiah yang pada saat ini (23-12-2014) mencapai Rp 12.463,- bisa ditekan menjadi Rp 12,4,- per US$ 1. Hal tersebut akan berimbas positif pada aspek psikologis bangsa Indonesia selaku pemilik mata uang rupiah.

Beda, Redenominasi dan Sanering

Dewasa ini, banyak orang yang masih belum bisa membedakan antara redenominasi mata uang dan sanering, padahal dua kebijakan tersebut merupakan dua hal yang berbeda, sehingga penting di sini untuk mengetahui perbedaan redenominasi dengan sanering. Meskipun sama-sama memiliki pengertian pemotongan nilai mata uang, redenominasi tidak mengurangi nilai mata uang yang dipangkas nominalnya, sementara sanering mengurangi nilai mata uang menjadi setengahnya sehingga berdampak menurunkan daya beli masyarakat karena nilai uang turun tapi harga barang tetap tidak berubah. Selain itu, redenominasi biasanya dilakukan dalam kondisi ekonomi yang stabil dan menuju ke arah yang sehat, sedangkan sanering dilakukan dalam kondisi perekonomian yang tidak sehat. Tujuan kedua kebijakan tersebut juga berbeda, jika redenominasi ditujukan untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi, sanering ditujukan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar akibat harga-harga yang mengalami lonjak

Indonesia pernah mengalami pengalaman gunting rupiah/sanering, sanering pertama dilakukan pada 19 Maret 1950, kebijakan ini dikenal dengan “Gunting Sjafrudin”, karena ditetapkan oleh Menteri Keuangan RIS (Republik Indonesia Serikat) Sjafrudin Prawiranegara, pada waktu itu sanering dilakukan untuk menekan harga yang melambung tinggi atau inflasi. Uang kertas Bank Indonesia –dulu De Javasche Bank– pecahan Rp 5 ke atas dipangkas. Guntingan uang sebelah kanan ditukar dengan surat utang pemerintah Indonesia 1950 berbunga 3 %. Potongan uang kiri tetap berlaku, tapi nilainya tinggal setengah. Sanering kedua, dilakukan pada 25 Agustus 1959, di mana pada saat itu nilai uang Rp 500 dan Rp 1.000 digunting menjadi Rp 50 dan Rp 100, berdasarkan buku sejarah BI, kebijakan itu didasarkan pada Undang-Undang No.2 Prp. Tahun 1959. Kebijakan tersebut justru membuat defisit anggaran semakin meningkat, defisit anggaran yang dialami pemerintah yaitu 29,7% (1961), lalu 38,7% (1962), 50,8% (1963), 58,4% (1964), hingga 63,4% (1965).

Optimisme Redenominasi Rupiah

Setelah belajar dari sejarah yang sudah terlewati, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan RI kini optimis bahwa redenominasi Rupiah tidak akan menuju ke jurang kegagalan, karena Indonesia sebenarnya sudah siap untuk melakukan redenominasi, namun karena kebijakan ini masih belum familiar di tengah-tengah masyarakat, diperlukan sosialisasi yang massif agar masyarakat mengetahui tentang redenominasi yang akan dilaksanakan, sosialisasi penting untuk dilakukan sebab masyarakat nantinya akan menjadi pengguna kebijakan redenominasi, apabila masyarakat tidak mengerti, maka perekonomian negara akan terganggu. Menurut Bank Indonesia, dengan stabilitas makroekonomi Indonesia yang selama 5 tahun ini tergolong baik, adanya dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat, tersedianya landasan hukum yang kuat, dilakukannya sosialisasi dan edukasi secara intens kepada publik, serta pemilihan waktu (timing) dan urutan pelaksanaan (sequencing) yang tepat dalam melakukan redenominasi sudah menjadi syarat yang cukup untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.

Sebagai negara yang akan tumbuh berkembang menjadi negara maju, Indonesia memang sudah seharusnya ‘menyederhanakan’ mata uangnya agar setara dengan negara-negara tetangga, terutama di Asia Tenggara. Oleh karena itu, diperlukan adanya kebijakan untuk mempersiapkan kesetaraan ekonomi Indonesia, redenominasi merupakan sarana kebijakan yang tepat untuk menyetarakan perekonomian tersebut, disebut tepat karena dapat mengefisienkan transaksi ekonomi, yang dapat diukur dari waktu yang digunakan untuk mencatat dan menghitung kalkulasi dalam perdagangan, serta pecahan uang yang dibawa pada saat melakukan transaksi. Dengan tingkat inflasi yang terbilang stabil, redenominasi Rupiah akan lebih banyak mendatangkan dampak positif terhadap Indonesia, sehingga bukan tidak mungkin di era yang akan datang, tepatnya pada tahun 2030, kekuatan ekonomi Indonesia akan menjadi terbesar ke-7 dunia, seperti yang diprediksikan oleh McKinsey Global Institute (MGI) tahun 2012 silam.