Kopi Kelir, Komoditas Unggulan Semarang Yang Tembus Pasar Internasional

Kopi Kelir, Komoditas Unggulan Semarang Yang Tembus Pasar Internasional (Foto: Kopi Gunung Kelir Blogspot)
Kopi Kelir, Komoditas Unggulan Semarang Yang Tembus Pasar Internasional (Foto: Kopi Gunung Kelir Blogspot)

Jambu, SEMARANGDAILY**Cakupan pemasaran komoditas perkebunan unggulan Kabupaten Semarang di pasar internasional semakin meluas. Biji kopi yang dibudidayakan petani di wilayah Pegunungan Kelir Jambu Kabupaten Semarang berhasil merebut perhatian pembeli dari Korea Selatan.

Hasilnya, sebanyak 18  ton biji kopi robusta produksi Kelompok Tani Manunggal VI Gunung Kelir Jambu, dikirim ke Negeri Ginseng lewat.

Ketua Kelompok Tani Manunggal VI, Hadi Suprapto, menjelaskan biji kopi dari Gunung Kelir yang dibudidayakan kelompoknya memang punya ciri khas tersendiri

“Kopi Gunung Kelir memiliki aroma moka yang khas yang tidak ditemukan pada biji kopi yang lain. Aroma ini ternyata disukai para penikmat kopi di luar negeri,” terangnya.

Biji kopi sebanyak 18 ton yang dikirim ke Korea Selatan itu merupakan komoditas bermutu tinggi alias termasuk grade I. Dengan kadar air antara 10-13 persen dan persentase kotoran yang hanya setengah persen, adalah jaminan mutu Kopi Robusta Gunung Kelir di pasar kopi dunia.

Sebelum Korea Selatan, lanjut Hadi, penikmat kopi dari Singapura dan Jepang telah lebih dulu menikmati aroma moka khas kopi Gunung Kelir itu.

Saat ini para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Manunggal VI mengelola tanaman kopi di lahan seluas 489 hektar. Tingkat produksi 1,1 ton per hektar yang dihasilkan ternyata belum mampu memenuhi permintaan pasar luar negeri. Sebab mutu biji kopi yang dihasilkan tidak sama baik ukuran maupun warnanya. Sehingga perlu dilakukan sortir untuk mendapatkan mutu biji kopi yang seragam.

“Proses sortir oleh petani  membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan. Hal ini menjadi kendala karena sebenarnya pembeli membutuhkan kecepatan pengiriman kopi dengan mutu yang sama,” jelasnya.

Hingga akhir tahun 2014, tambahnya, pihaknya masih memiliki jatah kuota 5 kontainer. Hadi berharap para petani mampu dan mau bekerja keras memenuhi permintaan itu. Diakui, dari hasil survey CV Cakra mutu kopi Gunung Kelir lebih tinggi dibanding komoditas sejenis dari Wonosobo dan Lampung.

“Jadi, para petani Gunung Kelir harus bekerja keras agar mampu memenuhi kuota yang ada. Sebab ini peluang bagus karena pembeli dari luar negeri telah mengakui keunggulan mutu kopi Gunung Kelir,” tutur Hadi.

Gulirkan Dana Besar

Ganjar mendorong untuk memopulerkan serta memasarkan kopi asli Jawa Tengah agar terus dibangun. (Foto: Ganjar Pranowo Blogpot)
Ganjar mendorong untuk memopulerkan serta memasarkan kopi asli Jawa Tengah agar terus dibangun. (Foto: Ganjar Pranowo Blogspot)

Direktur Bisnis Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan UKM RI, Warso Widanarto menyampaikan dana yang digulirkan di Jawa Tengah cukup banyak. Yakni Rp 1,119 triliun, atau 20 persen dari total LPDB yang tercatat Rp 5 triliun. Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk modal usaha. Uang yang bergulir pun jumlahnya bisa mencapai miliaran rupiah. Namun, dia menggaris bawahi, dana itu bukan dana hibah melainkan pinjaman yang harus dikembalikan. Jangka waktunya, untuk modal kerja selama lima tahun, dan investasi 10 tahun.

“Basisnya adalah kelayakan karena ini pinjaman. Bukan bantuan sosial yang sifatnya sama rasa sama rata. Petani di Gunung Kelir pun bisa meminjam. Tapi kalau mau pinjam jangan untuk budidaya. Kalau untuk pembelian atau trading, silakan saja,” tandasnya

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Tegoeh Wynarno Haroeno, mengatakan setelah berhasil mewujudkan swasembada gula di Jateng pada 2013, pada 2014 ini berencana meningkatkan produksi kopi, kakao, dan teh. Tidak hanya mencapai swasembada, tapi dapat menjadi eksportir terbesar. Khusus untuk kopi, produksi di Jawa Tengah sudah mencapai 20 ribu-25 ribu ton. Jumlah  penyambungan. Sehingga produksi kopi dapat terus meningkat.

Petani Kopi Gunung Kelir, Ahmad Rofi, mengungkapkan peningkatan produksi kopi terus dilakukan, dengan pembinaan dari pemerintah. Salah satunya, melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) pada 2013 yang hasilnya terbukti dapat meningkatkan produksi kopi dari 750 kilogram per hektare menjadi 1.400 kilogram (1,4 ton) per hektare. Dan jumlah tersebut pun akan terus ditingkatkan hingga mencapai target 2 ton per hektare. Untuk itu pihaknya berharap bantuan benih dan pemberian keterampilan budidaya kopi. Seperti, teknik penyambungan yang belum dikuasai oleh seluruh petani, jarak tanaman yang memenuhi standar, dan sebagainya.

“Ya, semangat untuk terus memopulerkan dan memasarkan kopi asli Jawa Tengah terus dibangun. Apalagi potensi kopi di provinsi ini, khususnya Kopi Kelir, sangat menjanjikan. Sejumlah pegunungan yang ada di Jawa Tengah membudayakan kopi,” katanya.

Saat ini Kopi Kelir cenderung kurang dikenal di kalangan masyarakat luas. Padahal kopi tersebut sudah dibudidayakan lebih dari 100 tahun lalu. Rasanya pun sangat enak dan dapat bersaing dengan kopi dari provinsi lain maupun mancanegara. Bahkan, Kopi Kelir dari Kabupaten Semarang termasuk yang terbaik di Indonesia dan meraih penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara pada Novermber 2013 lalu. Selain menembus pasar ekspor di Australia, beberapa waktu lalu, Bupati Semarang juga telah membuka pasar di Korea dengan mengekspor 18 ton Kopi Kelir.