APDC, Solusi Undip Pecahkan Masalah Distribusi Produk Pertanian Jateng

Angkat Masalah Jateng Mahasiswa Undip Juara LKTI Nasional (Foto: Undip)
Angkat Masalah Jateng Mahasiswa Undip Juara LKTI Nasional (Foto: Undip)

Tembalang, SEMARANG DAILY**Distribusi adalah kegiatan ekonomi yang menjembatani kegiatan produksi dan konsumsi. Berkat distribusi barang dan jasa dapat sampai ke tangan konsumen. Dengan demikian kegunaan dari barang dan jasa akan lebih meningkat setelah dapat dikonsumsi. Oleh karena itu, distribusi merupakan aspek yang sangat penting dalam kegiatan ekonomi.

Mengangkat masalah Distribusi Produk Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Tiga Mahasiswa Undip berhasil memperoleh Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional mengalahkan tim-tim dari universitas lain se-Indonesia. Event tersebut diselenggarakan oleh Forum Studi Mahasiswa Pengembangan dan Penalaran di Universitas Brawijaya baru-baru ini (23/11).

Dalam lomba tersebut, delegasi Undip hanya satu tim yang terdiri dari Faiz Balya Marwan, Muhammad Subhan, dan Alan Ray Farandy. Ketiga mahasiswa ini mengangkat judul Agricultural Product Distribution Center (APDC) : Sebagai Upaya Peningkatan Perekonomian Petani Melalui Pengoptimalan Distribusi Produk Pertanian (Studi Kasus Provinsi Jawa Tengah).

Ketua tim, Faiz, mengatakan bahwa penelitian ini berawal dari rasa prihatin terhadap kondisi perekonomian petani di Jawa Tengah. Sektor Pertanian mulai ditinggalkan oleh kawula muda karena identik dengan kemiskinan. Padahal sebagian besar penduduk Jateng menggantungkan diri pada sektor pertanian.

“Sungguh ironis,” kata Faiz.

Belum optimal

Ia mengungkapkan potensi pertanian di Jawa Tengah masih belum optimal dan kalah dibandingkan dengan komoditas lainnya.

“Menyongsong adanya Pasar Bebas AEC 2015, sebenarnya potensi ekonomi melalui ekspor produk pertanian Jateng sangat besar tapi sampai saat ini belum dimaksimalkan. Dalam satu dekade terakhir, ekspor produk pertanian Jateng masih kalah jauh dibanding komoditas tekstil dan kayu olahan.”

“Salah satu penyebab kurangnya nilai ekspor Jateng adalah ketidaktahuan petani terhadap regulasi dan proses ekspor itu sendiri. Sedangkan kendali ekspor berada penuh di tangan eksportir. Di sisi lain, data di lapangan yang kami analisis menunjukkan bahwa terdapat perolehan keuntungan yang timpang. Jadi ada dua masalah kunci dalam penelitian kami, nilai ekspor produk pertanian Jateng rendah dan selisih keuntungan yang jauh antara petani dan eksportir,” ujar Faiz.

Dengan memaksimalkan ekspor produk hasil pertanian dan meminimalisir selisih harga, maka perekonomian dapat meningkat yang akan berimbas pada kesejahteraan petani.

Gagasan alternatif untuk menangani masalah tersebut adalah diperlukan adanya sebuah lembaga khusus sebagai fasilitator dalam pengembangan potensi pertanian yang ada yang mereka sebut APDC. APDC dapat mempertemukan kepentingan pemerintah daerah, investor, petani, dan tenaga ahli.

Harapannya, Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah Jateng dapat berperan aktif dalam upaya pengoptimalan distribusi produk pertanian. Wujud peran aktif pemerintah dapat berupa penciptaan iklim inverstasi yang baik, kebijakan-kebijakan pro petani, dan perbaikan rantai ekspor. Tenaga ahli seperti kalangan akademisi juga harus ikut berpartisipasi dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani Jateng.