Kopi Asli Jawa Tengah Harus Populer

???
Jajaran Pemerintah Provinsi Jateng bertemu dengan para petani kopi. (Foto : Pemprov Jateng).

Semarang Kota, SEMARANG DAILY**Semangat untuk terus memopulerkan dan memasarkan kopi asli Jawa Tengah terus dibangun. Hal ini disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di sela-sela acara Ngopi Bareng Mas Ganjar, Ngrembug Masa Depan Kopi Jawa Tengah, yang berlangsung di Aula E Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Jumat (31/10).

“Ya, semangat untuk terus memopulerkan dan memasarkan kopi asli Jawa Tengah terus dibangun. Apalagi potensi kopi di provinsi ini, khususnya Kopi Kelir, sangat menjanjikan. Sejumlah pegunungan yang ada di Jawa Tengah membudayakan kopi,” katanya.

Saat ini Kopi Kelir cenderung kurang dikenal di kalangan masyarakat luas. Padahal kopi tersebut sudah dibudidayakan lebih dari 100 tahun lalu. Rasanya pun sangat enak dan dapat bersaing dengan kopi dari provinsi lain maupun mancanegara. Bahkan, Kopi Kelir dari Kabupaten Semarang termasuk yang terbaik di Indonesia dan meraih penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara pada Novermber 2013 lalu. Selain menembus pasar ekspor di Australia, beberapa waktu lalu, Bupati Semarang juga telah membuka pasar di Korea dengan mengekspor 18 ton Kopi Kelir.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Tegoeh Wynarno Haroeno, mengatakan setelah berhasil mewujudkan swasembada gula di Jateng pada 2013, pada 2014 ini berencana meningkatkan produksi kopi, kakao, dan teh.T idak hanya mencapai swasembada, tapi dapat menjadi eksportir terbesar. Khusus untuk kopi, produksi di Jawa Tengah sudah mencapai 20 ribu-25 ribu ton. Jumlah  penyambungan. Sehingga produksi kopi dapat terus meningkat.

Petani Kopi Gunung Kelir, Ahmad Rofi, mengungkapkan peningkatan produksi kopi terus dilakukan, dengan pembinaan dari pemerintah. Salah satunya, melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) pada 2013 yang hasilnya terbukti dapat meningkatkan produksi kopi dari 750 kilogram per hektare menjadi 1.400 kilogram (1,4 ton) per hektare. Dan jumlah tersebut pun akan terus ditingkatkan hingga mencapai target 2 ton per hektare. Untuk itu pihaknya berharap bantuan benih dan pemberian keterampilan budidaya kopi. Seperti, teknik penyambungan yang belum dikuasai oleh seluruh petani, jarak tanaman yang memenuhi standar, dan sebagainya.

Ketua Gapoktan Gunung Kelir dan Koperasi Manunggal Kecamatan, Jambu Kabupaten Semarang, Ngadianto menjelaskan produksi kopi di wilayah Kecamatan Jambu mencapai 1.104 ton per tahun. Dari produksi tersebut, kopi dengan kualitas baik sekitar 75 persen atau 800 ton per tahun. Karena terkendala dana, kemampuan koperasi untuk memasarkan produksi kopi baru 11,3 persen atau 125 ton. Pihaknya juga telah berupaya merambah pasar ekspor. Untuk menyiasati keterbatasan dana, koperasi yang dikelolanya menerapkan tiga cara pembelian kopi, yakni dengan membeli kontan, membayar setengah, dan pembayaran belakangan setelah dilakukan pembayaran oleh importir. Karenanya, dia berharap adanya tambahan permodalan dari pemerintah.

Jateng gulirkan dana besar

Direktur Bisnis Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan UKM RI, Warso Widanarto menyampaikan dana yang digulirkan di Jawa Tengah cukup banyak. Yakni Rp 1,119 triliun, atau 20 persen dari total LPDB yang tercatat Rp 5 triliun. Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk modal usaha. Uang yang bergulir pun jumlahnya bisa mencapai miliaran rupiah. Namun, dia menggaris bawahi, dana itu bukan dana hibah melainkan pinjaman yang harus dikembalikan. Jangka waktunya, untuk modal kerja selama lima tahun, dan investasi 10 tahun.

“Basisnya adalah kelayakan karena ini pinjaman. Bukan bantuan sosial yang sifatnya sama rasa sama rata. Petani di Gunung Kelir pun bisa meminjam. Tapi kalau mau pinjam jangan untuk budidaya. Kalau untuk pembelian atau trading, silakan saja,” tandasnya