Joe Lee: Hutan Mangrove Dapat Majukan Desa

Joe Lee saat meninjau Hutan Tembakau, di Kecamatan Tugu. (Foto: Pemkot Semarang)
Joe Lee saat meninjau Hutan Tembakau, di Kecamatan Tugu. (Foto: Pemkot Semarang)

Tugu, SEMARANG DAILY**Joe Lee, seorang professor dari Australian Rivers Institute and School of Environment, Griffith University, mengunjungi Hutan Bakau dan tanaman mangrove Tapak, Kamis (27/11). Lee bertujuan meninjau langsung kondisi hutan mangrove yang oleh masyarakat lokal dikembangkan menjadi wisata bahari.

“Selain sebagai penahan ombak, keberadaaan mangrove ternyata juga dapat memajukan desa dengan budidaya ikan ataupun kepiting,”, katanya.

Dalam kunjungan ini Joe ingin berbagi pengetahuan mengenai manfaat dan peran mangrove pada para akademisi dan penggiat lingkungan di Indonesia maupun di daerah asalnya

Selain itu, mengunjungi hutan mangrove, lee juga memberikan seminar dengan tema “Ecological function and services of mangroves-promises unfulfilled?”, di Hotel Oak Tree.

Lee mengatakan bahwa Indonesia dan Australia saat ini menjadi dua negara pensuplai hutan mangrove terbesar di dunia. Bahkan kedua negara tersebut, presentasinya mencapai 30 persen.

Besarnya fungsi hutan mangrove, lanjutnya, tidak dapat maksimal dan berkelanjutan jika praktik manajemen yang ada tidak berubah. Banyak faktor yang mengancam masa depan hutan bakau. Oleh karenanya peran seluruh pihak termasuk pemerintah sangat signifikan dan diperlukan.

“Sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk pelestarian hutan bakau di antaranya penghentian perusakan mangrove, konversi tambak udang tidak produktif ke hutan bakau, penanaman kembali hutan bakau, serta upaya pemberdayaan dan pelibatan masyarakat dalam konservasi dan pengelolaan hutan bakau,” tandasnya