Yang Tersirat Dari Pesta Rakyat Jokowi

???
Jokowi dalam arak-arakan. (Foto : Wall Street Journal)

INDONESIA bukan negara dagelan yang berisi orang-orang bedegilan. Indonesia adalah negara perkasa yang di dalamnya tercipta begitu banyak asa. Setidaknya, itulah pesan tersembunyi yang hendak disampaikan presiden terpilih kita, Joko Widodo.

Pidato

Selepas maghrib, atau tepat ketika matahari telah pergi meninggalkan bumi Indonesia, Jokowi datang menemui konstituentnya di Monas. Sambil berlari ke kiri dan ke kanan, dia melambaikan tangan secukupnya. Sesekali dia lontarkan senyum. Tak jarang pula dia menyapa sekenyanya. Dalam posisi yang riuh, amat sulit memang menyenangkan semua orang, namun setidaknya apa yang dilakukan oleh Jokowi sudah benar.

Kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam menjadi kostumnya. Rambutnya disisir rapih, model belah pinggir ke kiri. Di depannya, microphone telah siap melontarkan ucapannya pada ratusan ribu orang yang mengelilinganya.

Jokowi bukanlah orator, dia lebih tepat disebut sebagai seorang eksekutor. Kata-katanya tak selincah Soekarno. Nada dari pita suaranya pun tak mampu semenggema Bung Tomo. Dia begitu datar dan standar. Akan tetapi, dalam kesempatan yang lain, tajamnya ucapannya itu berubah dan berevolusi dalam suatu bentuk kebijakan. Dia mengeksekusi apa yang dirasa akan mempercepat kesejahteraan rakyat bak pemimpin ternama, Hugo Chavez.

Apa yang disampaikannya malam itu tak banyak. Jika hendak dirangkum, maka dua kata saja telah cukup dipergunakan untuk meringkas. Wejangannya berputar pada satu titik yang kita mengenalnya secara sadar, yaitu kerja keras.

Pemotongan Tumpeng

Jokowi kemudian menyudahi public speaking-nya yang kira-kira hanya sekitar 10 menit. Sesi kedua dari acara itu pun berlanjut.

Sebongkah tumpeng dimajukan ke depan panggung. Warnanya kuning mengkilap dengan aneka bumbu-bumbu lokal di sekitarnya. Konon, bumbu itu berasal dari 33 Provinsi yang menunjukan keutuhan NKRI.

Jokowi kemudian mengambil sebilah sendok besar. Dipotongnya ujung tumpeng itu dengan sedikit hati-hati. Potongan tumpeng pertama itu dia berikan kepada seorang supir taksi wanita. Bukan hanya supir taksi, wanita tersebut juga adalah ibu serta ayah dari dua orang anak, sebut sajalah dia janda. Semua sontak kaget, luar biasa sekali wanita ini.

Tumpeng kedua kemudian disajikan tak lama setelah supir taksi wanita itu pergi. Bergantian maju seorang mamah-mamah pasar asal Papua menyambut tumpeng kedua. Kedua wanita tersebut adalah pedagang sayur di pasar, yang bekerja demi menopang hidup keluarganya. Menurut MC, dua wanita tua itu rela bersusah payah dan sedikit tidur agar tetap menjadi tulang punggung sanak familinya di kampung Papua.

Sesi kedua berakhir, kini potongan tumpeng ketiga telah berada di atas piring. Dan lagi-lagi, seorang wanita yang menerima kesempatan tersebut. Juara dunia fisika kali ini dipilih. Dengan sumringah perempuan belasan itu menyambut nasi kuning dari tangan pak presiden. Kacamatanya hampir saja lepas ketika terpaksa dalam bahagia, dia harus berkedip-kedip.

Doa Lintas Agama

Pesta rakyat yang amat meriah itupun mendadak sunyi senyap. Beberapa pemuka dari berbagai macam agama bergerak maju mengambil alih panggung. Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PBNU, didaulat memimpin pasukan suci itu. Rakyat mulai menunduk, sementara Pak Jokowi membuka tangan dan menandahkan wajahnya ke langit. Harapan-harapan ilahi berkumandang seraya kesepian penuh nuansa khusuk.

Acara pun kemudian selesai. Pak Jokowi pulang kembali menuju istana.

Pesan

Dalam kesempatan tulisan ini, saya hendak mengkombinasikan pesan moral yang cukup teramat rumit itu dengan kondisi aktual Indonesia.

Ada tiga hal yang bisa kita jadikan sebagai kata kunci awal sebelum memasuki rangkuman besar. Yang pertama, dalam sesi pidato, Jokowi memberikan pesan ‘Kerja Keras’. Yang kedua, dia menunjukan penghargaannya pada sosok wanita, sosok yang mungkin seringkali diremehkan dan dianggap lemah. Yang ketiga, kebersatu paduan dalam bingkai Indonesia yang majemuk namun berketuhanan.

Sebagian mungkin menganggap hal itu hanya selesai di situ saja. Atau juga, hal itu tidak ada kaitannya dengan apa yang telah Jokowi rintis sebelumnya. Sebenarnya, apa yang hendak dicerminkan oleh Jokowi pada pesta rakyat itu adalah aktualisasi daripada ‘revolusi mental’.

Revolusi mentak tidak mungkin dapat terjadi tanpa keinginan untuk melakukan suatu kerja keras. Revolusi mental adalah kemampun terus bangkit dari kejatuhan tanpa mengeluh sedikitpun. Satu ciri khas seorang yang penuh dengan kerja keras, seberat apapun masalah yang dia hadapi, dia tidak akan mundur ! Semangat juang inilah yang dirasa hilang dalam kebiasan berhidup masyarakat Indonesia.

Revolusi Mental, kata Jokowi, adalah unggah ungguh. Unggah ungguh adalah pepatah jawa yang maksudnya mengedapankan sikap sopan dan santun (munggahke wong ning tempat lungguhe). Jokowi begitu cerdik mengajari kita tentang apa yang dimaksudnya dengan sopan santun itu. Disaat dimana banyak anak yang tak sopan pada orang tua, dia terkesan menyuruh kita secara tidak langsung untuk menghargai dan mencintai perempuan. Sudah barang tentu, perempuan pertama yang letaknya paling dekat dengan kita adalah IBU. Ibu adalah cerminan ketulusan yang mengalir menyegarkan bagaikan air tanpa ujung muara. Jika kita menghormati ibu, kita menghormati manusia lainnya, karena di dalam Ibu, ada cinta yang tak memiliki noda benci.

Revolusi Mental, seringkali diucapkan Jokowi sebagai menghargai orang lain. ‘Tetangga yang satu dengan tetangga lainnya tidak saling kenal’, kata Jokowi. Karena tidak saling kenal itu, maka permusuhan mudah tersulut, akhirnya satu dengan lainnya tega saling menyakiti. Untuk itulah, pemuka dari berbagai macam agama maju bersama sebagai pertunjukan kerukunan. Jokowi, melalui pementasan itu, memberikan kita pengajaran untuk menghilangkan perbedaan, mulai berjalan berdampingan untuk satu tujuan yang agung, kesejahteraan Indonesia.

Itulah, pesan yang dalam yang coba Jokowi sematkan dalam hati kita. Semoga bermanfaat.