Semarang Perbanyak Ruang Terbuka Hijau

Taman Diponegoro, Semarang. (Foto : Rabsanjany Blogspot)
Taman Diponegoro, Semarang. (Foto : Rabsanjany Blogspot)

Kota Semarang, DAILY SEMARANG**Semarang dalam dua tahun terakhir seakan semakin giat membangun taman kota. Setidaknya ada belasan taman yang sudah dibangun ataupun diperbaiki di tahun 2013-2014 ini. Bahkan di tahun 2014, ada 11 pekerjaan taman. Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang, Ulfi Imran Basuki menegaskan, dua tahun terakhir Pemkot Semarang memang mengejar amanah undang-undang, bahwa setiap daerah harus memiliki minimal 20 persen ruang terbuka hijau (RTH) aktif.

“Kami akui, saat ini masih ada ketertinggalan penyediaan kebutuhan RTH aktif yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Kota Semarang baru memiliki sekitar 9 persen. Maka untuk itu dalam dua tahun terakhir kami akan menggenjot program pembangunan RTH, termasuk perbaikan taman yang belum maksimal,” katanya.

Tahun ini, ada beberapa pembangunan dan rehab taman yang sedang dikerjakan Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Di antaranya rehab Taman Sudirman, rehab Taman Randusari, Rehab Taman Pemuda, Taman Beringin, Taman Rejomulyo Jalan Kartini, rehabilitasi Taman Mentri Supeno (Taman KB), pembangunan Taman Tirto Agung II, pembangunan taman samping Makam Pahlawan Sriwijaya, Taman Pandanaran, Taman Lalu Lintas di Mangkang, dan Taman Jatisari di Mijen.

“Target kami, Desember program pembangunan taman bisa selesai. Sehingga tahun depan akan ada pembangunan taman lain, dan kebutuhan RTH bisa terpenuhi,” katanya.

Sementara Kabid Pertamanan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Budi Prakoso, menegaskan, untuk mengejar target 20 persen RTH, pihaknya sudah membangun beberapa taman baru. Di antaranya Taman Rejomulyo di eks-Pasar Kobong (seluas 0,5 hektar dari rencana 2,5 hektar), Taman Pandanaran (300 m2), Taman Tirto Agung Banyumanik (0,9 hektar), Taman Jatisari Mijen (1,5 hektar), Taman Sampangan di eks-Pasar Sampangan (0,3 hektar), Taman Lalu Lintas di Mangkang (1,5 hektar) dan lain-lain.

“Tahun 2015 nanti, akan ada rencana pembangunan taman baru lagi. Yaitu Taman Bumi Perkemahan Jatibarang (luas 2-3 hektar), Taman Hutan Kota Mijen (3 hektar), serta pembuatan jalur bunga dari Kalibanteng hingga Bangkong. Ke depan kami juga akan berkomitmen untuk memperbaiki sistem perawatan. Kemungkinan akan dipihak ketigakan, agar perawatan bisa lebih maksimal,” tegasnya.

 

Ruang Terbuka Jangka Kelurahan

Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang juga akan mengusulkan, agar pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) bisa menjangkau ke tingkat kelurahan. Hal itu disampaikan Kabid Pertamanan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Budi Prakoso ketika mengikuti tinjauan lapangan Komisi C DPRD Kota ke beberapa proyek pengerjaan taman, Rabu (29/10).

Dikatakan, pihaknya akan mengusulkan ke pimpinan daerah, kantor pemerintahan di tingkat kelurahan dan kecamatan, kantor pendidikan serta kantor kesehatan (puskesmas), harus menyediakan taman terbuka hijau yang dibuka untuk publik.

“Mengacu pada pengalaman di Yogyakarta dan Bandung, tepatnya di kampus UGM dan ITB, di sana taman dibuka untuk umum dan warga bisa mengaksesnya. Dalam hal ini Kota Semarang sangat ketinggalan. Taman kantor kelurahan, kecamtan misalnya, daripada sepi saat di luar jam kerja, kenapa tak sekalian dibuka untuk publik. Apalagi itu ruang publik,” tegasnya.

Pihaknya akan berusaha mengembalikan fungsi publik yang saat ini banyak diprivatisasi. Hal itu sebagai upaya untuk mengejar kebutuhan 20 persen lahan terbuka hijau di Kota Semarang.

“Selain itu kami juga akan membangun beberapa taman di tahun 2015. Di antaranya Taman Bumi Perkemahan Jatibarang (luas 2-3 hektar) dan Taman Hutan Kota Mijen (3 hektar),” tegasnya.

Sementara, Komisi C DPRD Kota Semarang Rabu (29/10) melaksanakan tinjauan lapangan di beberapa proyek pembangunan taman. Ketua Komisi C DPRD Kota, Kadarlusman, mengatakan, pihaknya berharap seluruh pekerjaan pembangunan taman bisa selesai pertengahan Desember. “Sehingga ada pemenuhan kebutuhan RTH di wilayah ini,” kata pria yang biasa dipanggil Pilus.

Dari hasil tinjauan itu, pihaknya memberikan catatan kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota bahwa area RTH harus steril dari reklame dan bentuk papan promosi lain. Apalagi saat ini, banyak taman yang terbangun tapi kemudian dipenuhi papan reklame dan videotron.

“Di Taman Pandanaran misalnya, ada papan reklame di sana. Kemudian di Taman Randusari malah dirancang untuk dibangun videotron. Jika memang diperuntukkan untuk publik, jangan sampai masyarakat terganggu dengan keberadaan reklame komersil,”paparnya.