Menghidupkan Api Sumpah Pemuda

???
Karikatur kongres sumpah pemuda (Foto: kupretis wordpress)

Dikatakan oleh Soekarno, bahwa kita sebagai pemuda “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,”. Meskipun mungkin bernada khiasan dan imajinatif, tetapi, lagi-lagi, Soekarno menggerakan imajinasi kita sebagai bagian bangsa Indonesia untuk berpikir.

Syahdan, tidak terasa 86 tahun sudah, waktu lahirnya sumpah pemuda berlalu. Sugondo Djojopuspito sebagai ketuanya pun telah tiada. Mohammad Yamin selaku senior yang menginspirasi lahirnya ikrar sakral itu juga telah lama pergi. Tak terkecuali, Sjahrir, yang waktu itu melecut semangat Pandu Kertawiguno untuk melaksakan kongres, pun sudah berada di akhirat. Tetapi inilah yang menarik, sejarah dan legasi dari bercak-bercak persatuan itu tak lusuh.

Dalam dunia global yang serba instan dan terbuka, tidak sedikit anak muda yang kikuk lagi termangu ketika disodorkan pertanyaan “apa makna sumpah pemuda bagimu? Dan apa pula sumbangsihmu untuk mewujudkan itu?”. Bisa jadi penanya yang salah, tetapi bisa pula yang diberi pertanyaan justeru telah keliru. Yang menjadi soal adalah, kadang-kadang yang ditanya dan yang bertanya sama-sama tidak tahu. Bagaimana tidak, suguhan dan apa yang dikunyah pemuda kita hari ini sama sekali jarang menyentuh artefak sejarah menyangkut perannya dalam bingkai sumpah pemuda. Jadinya, sumpah pemuda hanya dianggap lukisan yang dipajang sebagai pengindah ruangan kehidupan saja.

Sutan Takdir Alisjahbana, seorang novelis (contoh : Dian Tak Kunjung Padam dan Grotta Azzura ) handal era 90an, pernah membuat suatu ungkapan yang melejitkan kesadaran pemuda Indonesia akan sumpahnya. Dalam buku Perbincangan Bersama Sidney Hook dia katakan, “pernyataan nasionalisme Indonesia yang paling tepat dan berpengaruh untuk gerakan nasional ialah Sumpah Pemuda . . . Pancasila adalah kompromi antara sebagian cendekiawan yang memimpin pada saat itu, mereka tidak dipilih secara demokratis”. Jika kita cermati, tentu sedikit banyak apa yang dia katakan ada benarnya. Karena embrio kelugasan pemudalah (bukan karena Pancasila), rakyat Indonesia pada waktu bangkit bersatu.

Namun lagi-lagi, pledoi terhadap masifnya gerakan pemuda membangkitkan Indonesia pada waktu itu, selalu menemui kebuntuan manakala di hadapkan pada soal “makna”. Sumpah pemuda memang, secara tekstual melahirkan semacam Memorandum of Understanding mengenai trisula Bahasa, Bangsa dan Tanah Air yang satu Indonesia. Di bagian yang lain, etiskah kemudian alasan yang tekstual itu menegasikan perjuangan kaum tua yang kontekstual, tentu tidak. Lebih diplomatis andaikata, secara esensi, kedua kegiatan itu berlaku bagaikan sebuah timbangan yang harus beratnya sama, agar menjadi cantik.

Kita kembali lagi ke belakang, dimana waktu penentuan sumpah pemuda belum menemukan kata sepakat. Adalah Sjahrir, pemuda nyleneh yang merobek jala-jala keraguan Maruto, Sugondo Djojopuspito dan Pandu Kertawiguno. Dalam beberapa litelatur dikatakan ketiga orang itu secara khusus menemui Sjahrir di Braga. Mereka ingin mendapatkan semacam wejangan mengenai ide gila mereka. Tersebutlah oleh Sjahrir yang waktu itu masih SMA, bahwa “kalian bicara persatuan, tapi tanpa suatu tindakan penjiwaan terhadap persatuan itu mana bisa?, persatuan itu bukan sekadar konsep untuk menyatukan sebuah perjuangan…”. Sontak saja, keberanian ketiganya itu semakin menggebu-gebu dan sebagai perwujudannya adalah kongres Pemuda akhirnya lahir 28 Oktober 1928.

Dari paragraf di atas itulah, apa yang kita cari-cari tadi akhirnya ditemukan jawabannya. Pertama, sumpah pemuda bukanlah tujuan tetapi justeru kendaraan untuk memulai suatu kebangkitan. Kedua, sumpah pemuda bukanlah ungkapan kutukan yang apabila kita melihat hal yang keliru, maka kata-kata sumpah pemuda itu dijadikan alat untuk mencak-mencak. Ketiga, sumpah pemuda itu ikatan batin dan tanggung jawab, yang apabila ternyata belum terimplementasi secara betul, maka pemuda berjuang terus dan terus mewujudkannya.

‘Sumpah Pemuda’ bukanlah sesuatu yang hilang hanya karena aktornya kemudian menjadi tua dan meninggal. Sumpah pemuda seperti sebuah estafet yang berenkarnasi pada generasi baru selanjutnya. Dan untuk saat ini, kebetulan kitalah, orang-orang muda di era globalisasi, yang mendapat bagian untuk memegang tongkat itu.

Telah disebutkan beberapa kata kunci dari tiga tokoh besar Indonesia, yaitu Soekarno, Sjahrir dan Sutan Alisyakbana. Apa yang disampaikan Sutan Alisyakbana kita dudukan dalam kategori motivasi. Ungkapan Soekarno kita masukan sebagai ungkapan demagog atau penggerak. Dan yang terakhir, ucapan Sjahrir kita kategorikan dalam lingkup kemana kita harus menuju. Jadi, gabungan ketiganya adalah ‘motivasi dari suatu pergerakan untuk mewujudkan suatu tujuan’.

Anak muda tidak boleh berkecil hati. Anak muda haruslah semangat dan bangga pada kemudaannya. Sutan Sutan Takdir Alisjahbana membesarkan hati kita dengan persepsinya yang menganggap sumpah kita adalah sumpah yang mempersatukan Indonesia. Oleh sebab itu, kita jangan lagi merasa bahwa segala di negara ini urusan orang tua atau pemerintah yang kemudian kita diwajibkan diam saja. Kita harus pro aktif, ini negara kita juga, bukan negara milik pemerintah. Kita, meskipun muda, memiliki kewajiban yang sama dalam urusan memperbaiki dan membesarkan Indonesia.

Alasan Bergerak

Letupan dari pita suara Soekarno adalah alasan mengapa hal di atas perlu kita galakan. Kita bukan penikmat cerita dan hanya mewarisi sebuah kebanggan yang bentuknya hitam di atas putih. Tapi kita, sebagai orang yang disebut pemuda, wajib menjadikan apa yang ada pada secarik kertas itu sebuah kenyataan. Sumpah pemuda bukanlah undang-undang yang kita tengak-tengok, untuk dikesempatan lain ketika bangsa keliru kemudian kita jadikan “bahasa, bangsa dan tanah air” itu sebagai legitimasi kemarahan. Sumpah pemuda adalah pesan tujuan, yang mungkin lebih kepada perintah atas dasar kesepakatan yang mewajibkan kita harus berjuang untuk itu.

Ketika pola pikir untuk turut serta dan alasan kewajiban telah melekat, maka apa yang harus kita lakukan itu mencari tujuan dari semua tindakan yang akan kita lakukan. Sjahrir secara gamblang dan terbuka meresapinya dengan bahasa yang filosofis, yang disebut olehnya sebagai tindakan penjiwaan terhadap persatuan. Maksudnya, mulailah menanamkan spirit persatuan dari diri kita sendiri. Kita belajar menghargai pendapat orang lain karena tidak ingin berdebat karena debat hanya menyisakan luka. Kita mencoba untuk saling mencintai dengan selalu mencari sisi baik setiap orang atau kelompok. Kita sebisa mungkin mengedepankan musyawarah yang jujur dan adil agar tidak ada pihak yang merasa dirampas keadilannya . itulah tindakan penjiwaan yang sederhana yang seringkali kita remehkan atau tidak diutamakan.

Melalui tulisan ini, roh-roh dan jiwa kepemudaan kita sejatinya tergerak dan bangkit. Setiap kata yang menuai dalam tinta, kita hidupkan dan kita jadikan pedoman untuk memenuhi kembali ruang-ruang publik dengan anak muda. Kita bukan hendak membuat suatu goro-goro tetapi kita mencoba melakukan suatu pembaharuan yang kadang memang belum dapat diterima secara umum. Logikanya, bangsa ini milik kita semua, tidak ada lagi ungkapan mesum ‘kita mah masih muda, belum cukup umur’, yang ada adalah ‘kita sekalipun anak muda adalah bagian dari bangsa Indonesia.’