Masyarakat Perlu Berdayakan Makanan Alternatif

???
Kemandirian pangan dapat dicapai dengan pemberdayaan makanan alternatif. (Foto : Yahoo).

Kota Semarang, SEMARANG DAILY**Dewan Ketahanan Pangan Kota Semarang mengimbau masyarakat untuk bisa memberdayakan makanan alternatif guna kemandirian pangan dalam jangka panjang. Hal itu juga dimaksudkan untuk menghindari krisis pangan saat musim paceklik.

“Ini antisipasi krisis pangan jangka panjang, kami memberikan sosialisasi publik agar lebih banyak mengkonsumsi makanan alternatif berbasis bahan baku lokal,” kata Ketua Dewan Ketahanan Pangan Kota Semarang, Intan Indriawan, dalam rilisnya, Selasa (14/10).

Sejumlah makanan alternatif yang bisa dimanfaatkan meliputi umbi-umbian, seperti ketela serta makanan buah yang mengandung karbohidrat tinggi seperti sukun. Apalagi jenis tanaman itu banyak tumbuh di beberapa wilayah di Kota Semarang.

“Mengkonsumsi bahan pangan alternatif juga menghemat secara ekonomi karena Kota Semarang tak mampu menyuplai kebutuhan beras,” katanya.

Imbauan ini diimbangi dengan koordinasi dengan sejumlah lembaga seperti desa mandiri pangan, rumah pangan lestari, serta pelatihan pengolahan pangan alternatif. Dewan ketahanan pangan juga telah melakukan survei, meski persediaan pangan di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah cukup, namun harga jual bahan baku mulai naik. Selain itu bahan baku utama seperti beras masih banyak disuplai dari luar daerah, seperti Kabupaten Klaten, Demak, dan Grobogan.

“Di Kota Semarang terdapat 16 desa mandiri pangan, 16 yang punya ketersedian pangan alternatif, serta 47 kawasan rumah pangan lestari yang diupayakan memproduksi tanaman organik. Selain itu juga terdapat 31 unit warung desa yang mampu mendistribusi bahan makanan pokok hasil produksi sendiri,” katanya.

 

Ancaman Industrialisasi

Sementara itu, ketua Aliansi Gerakan Peduli Petani Jawa Tengah, Yusap Sukoco menilai, saat ini industrialisasi dan pertambangan menjadi ancaman bagi petani untuk memproduksi bahan pangan. Kondisi itu disebabkan oleh sikap pemerintah daerah yang lebih memihak kepada investor.

“Kami melihat telah terjadi ancaman penyusutan lahan di Jateng oleh masuknya investor sektor pertambangan,” kata Yusap Sukoco.

Ia mengatakan ancaman yang sudah terjadi saat ini masuknya usaha pertambangan untuk industri semen besar di delapan kabupaten di Jawa Tengah. Sejumlah daerah yang telah menjadi lokasi pertambangan terdiri dari Kabupaten Blora, Pati, Rembang, Grobogan, Wonogiri, Banjarnegara, Kebumen dan Cilacap.

“Yang digunakan pertambangan itu lahan pertanian dengan luasan masing-masing mencapai puluhan ribu hektare,” katanya

.Ia menjelaskan, ancaman lain dalam upaya produksi pertanian di Jateng adalah rencana masuknya 60 industri asal Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi yang hendak eksodus ke Jawa Tengah.