Jateng Dorong Peningkatan Produksi Kedelai

???
Perkebunan Kedelai (Foto : Kabar-Agro Blogspot).

Kota Semarang,  SEMARANG DAILY**Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peningkatan produksi kedelai, agar kebutuhan kedelai yang menjadi makanan masyarakat sehari-hari dapat terpenuhi. Untuk itu, 16 kabupaten telah dipersiapkan mengoptimalkan produksi kedelai.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo,  mengungkapkan kebutuhan pangan di provinsi ini relatif tercukupi dari produksi petani lokal. Dia menunjuk contoh produksi padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu, gula, daging, telur yang sudah dapat memenuhi kebutuhan rakyat. Namun, untuk produk kedelai masih kurang. Pada 2013 lalu, dari kebutuhan 245.282 ton, estimasi produksi baru 208.706 ton.

“Buktikan Jawa Tengah bisa memenuhi kedelai sendiri,” tegas Ganjar,  Selasa (21/10).

Kendati begitu,  produk pertanian lainnya juga terus digenjot. Sehingga dapat memberikan kontribusi pangan nasional. Apalagi Jawa Tengah ditugasi negara menjadi salah satu provinsi yang dapat menyuplai pangan nasional.

“Orang lapar akan bisa berbuat apa pun untuk bertahan. Karenanya, wareg (baca : kenyang—red ) menjadi tatanan atau kebutuhan badaniah yang harus terpenuhi,” katanya.

Berbagai upaya pun terus dilakukan. Mulai dari intensifikasi, modernisasi, mekanisasi, hingga penanganan pascapanen. Penggunaan peralatan modern, seperti traktor, mesin penanam padi, mesin pemanen padi, dan sebagainya dapat menekan biaya produksi, serta mengatasi persoalan semakin berkurangnya jumlah petani di provinsi ini. Pengaturan pola tanam harus diterapkan sehingga tidak terjadi penumpukan produksi pada masa tertentu atau panen raya yang dapat mengakibatkan pada anjloknya harga. Penanganan pasca panen pun mutlak diperlukan, salah satunya melalui sistem tunda jual dengan memanfaatkan resi gudang.

 

Penundaan Penjualan

“Tunda jual sangat penting. Saya berharap ada pola IT yang bisa memetakan hari ini tanaman ini ditanam di mana. Misalnya padi ditanam dimana, cabai, kedelai, dan lainnya. Sehingga bisa diprediksi kapan panennya, kapan suplai produk meningkat.

Selanjutnya dapat dihitung dan dicatat siapa membutuhkan produk cabai, siapa yang menyuplai. Dengan begitu produk yang berlebih dapat disalurkan ke daerah yang membutuhkan dengan harga yang tinggi, tidak lagi anjlok,” katanya.

Tidak hanya itu, penganekaragaman pangan pun dilakukan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada beras sebagai makanan pokok, maupun gandum yang pemenuhannya masih mengandalkan impor. Dia menunjuk contoh beras analog yang bentuknya persis beras, namun terbuat dari jagung dan singkong sebagai pengganti beras. Gandum atau terigu sebagai bahan baku membuat roti, dapat digantikan dengan tepung mokav.

Kekurangan air yang sering terjadi saat kemarau, diatasi dengan memperbanyak penampungan air. Baik embung, bendungan, maupun waduk. Selain itu, penghijauan terus digalakkan agar air tanah dapat tetap terjaga. Di sisi lain, penataan ruang juga harus benar-benar diperhatikan untuk menghindari pengurangan lahan produktif. Dalam hal ini, diperlukan komitmen kuat dari pemerintah kabupaten/kota.