Asia Tenggara, Peluang Ekspor Holtikultura

Lahan Garapan Holtikultura (Foto : Bisnis Bandung)
Lahan Garapan Holtikultura (Foto : Bisnis Bandung)

Kota Semarag, SEMARANG DAILY**Pembangunan produk hortikultura Jawa Tengah terus dilakukan. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pembangunan hortikultura dilakukan untuk memenuhi pasar luar negeri yang terbuka lebar. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Suryo Banedro, Minggu (12/10).

“Kita masih ada peluang banyak. Kebutuhan pasar Asia Tenggara saja, di luar Indonesia, mencapai seribu ton per hari. Saat ini, ekspor per 2 mingguan masih 20 kontainer,” katanya.

Dijelaskan, ekspor tersebut antara lain dikirim ke Singapura, Malaysia, Korea, Jepang, Abu Dhabi, Myanmar dan India. Seluruh produk hortikultura yang diekspor sudah memiliki standar sertifikasi dan organik.

Melihat peluang pasar tersebut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, meminta agar pelaku usaha di bidang pertanian yang belum bisa memenuhi  standar konsumen luar negeri segera mengejar. Sedangkan petani yang sudah mampu memroduksi dengan hasil bagus diminta Ganjar untuk menularkan ilmunya. Mulai dari cara menanam, merawat hingga panennya.

Selanjutnya, dalam satu kelompok tani harus ada memegang manajemen. Mereka bertugas mengurus segala pencatatan dan pemasaran. Pada setiap pertemuan, Ganjar menyarankan agar jangan hanya membahas teknologi pertanian. Tapi juga membahas semua yang berkaitan dengan manajemennya. Pemerintah sendiri saat ini sedang berupaya membangun sistem informasi pertanian dan produk pertanian.

Melalui sistem tersebut diharapkan dapat diketahui produk apa yang dibutuhkan pasar, berapa kapasitas yang dapat dipenuhi, komoditas apa yang cocok ditanam pada musim tertentu dan pemerintah sendiri mudah mengontrol seluruh kegiatan pertanian. Sistem informasi pertanian dan produk pertanian juga sangat bermanfaat untuk menghindari pembelian dari tengkulak karena petani mampu mendapatkan pembeli sendiri. Karenanya, harga produksi pertanian juga akan lebih baik.

Untuk ekspor sayur dan buah segar, imbuhnya, perlu dipikirkan teknologi ekspornya. Sehingga, ketika sampai di konsumen, produk-produk tersebut masih fresh.

Ganjar juga menyampaikan, derivat (turunan) dari komoditas hortikultura sangat luar biasa. Investor dari Jepang, Korea dan Cina sudah menyampaikan ketertarikannya untuk melakukan investasi pada industri pengolahan produk hortikultura.

“Ada beberapa yang ingin melakukan pengolahan-pengolahan. Tapi mereka butuh visibility. Artinya seberapa besar kapasitas, kontinyuitas dan kualitasnya. Ini mesti didorong,” katanya.